JAKARTA, Cobisnis.com – Di tengah deretan kota besar Amerika Serikat yang terus tumbuh, terdapat sebuah kota kecil bernama Centralia yang justru berubah menjadi kota mati. Kota ini dikenal luas karena julukan ekstremnya, yakni “Neraka Dunia”, akibat kebakaran bawah tanah yang tak kunjung padam.
Centralia terletak di Columbia County, Pennsylvania, dan dulunya merupakan kota tambang batu bara yang cukup makmur. Pada masa jayanya, kota ini dihuni lebih dari 1.000 penduduk dengan ratusan bangunan, mulai dari rumah warga, sekolah, hingga fasilitas kesehatan.
Keberadaan batu bara seharusnya menjadi modal ekonomi bagi Centralia. Namun, sumber daya alam tersebut justru menjadi awal dari krisis lingkungan dan sosial yang menghapus kehidupan kota ini secara perlahan.
Bencana bermula pada 1962 saat terjadi kebakaran di lokasi pembuangan sampah kota. Api yang awalnya terlihat kecil ternyata merembet ke jaringan tambang batu bara yang sudah tidak aktif di bawah permukaan tanah.
Kobaran api yang masuk ke lapisan batu bara menciptakan kebakaran bawah tanah yang sulit dikendalikan. Lokasi tambang yang dalam membuat upaya pemadaman hampir mustahil dilakukan secara efektif oleh petugas.
Seiring waktu, api terus menyebar dan membakar area tambang yang luas. Hingga kini, kebakaran bawah tanah di Centralia tercatat meluas lebih dari 350 hektare dengan kedalaman mencapai sekitar 100 meter.
Laporan terbaru menyebutkan suhu di bawah tanah Centralia telah mencapai sekitar 760 derajat Celsius. Kondisi ini memicu munculnya asap beracun dan gas berbahaya yang keluar melalui celah tanah dan aspal jalan.
Pemerintah Amerika Serikat menilai kebakaran tersebut sangat sulit dipadamkan. Selain membutuhkan waktu puluhan hingga ratusan tahun, biaya yang harus dikeluarkan juga dinilai terlalu besar dibandingkan hasil yang belum tentu efektif.
Berdasarkan berbagai kajian, api di bawah tanah Centralia diperkirakan masih akan terus menyala setidaknya selama 100 tahun ke depan. Situasi ini membuat kota tersebut dinyatakan tidak aman untuk dihuni.
Demi keselamatan warga, pemerintah mulai melakukan relokasi besar-besaran pada 1980-an. Saat itu, lebih dari 1.000 penduduk dipindahkan secara bertahap ke wilayah lain yang dinilai lebih aman.
Meski demikian, proses relokasi tidak berjalan sepenuhnya mulus. Sejumlah warga memilih bertahan karena meyakini kondisi kota masih dapat ditoleransi, meski risiko kebakaran tetap mengintai.
Namun, mayoritas penduduk akhirnya memilih meninggalkan Centralia pada 1990-an. Kota ini perlahan kosong dan kehilangan fungsi sosial serta ekonominya sebagai permukiman.
Setelah hampir seluruh warga pergi, pemerintah mulai merobohkan bangunan yang tersisa dan membiarkan jalanan dalam kondisi rusak. Jalan Raya 61 bahkan ditutup permanen untuk mencegah akses publik.
Pada 2002, pemerintah AS secara resmi mencabut kode pos Centralia. Langkah ini diambil agar tidak ada aktivitas pengiriman maupun upaya hunian kembali di kota tersebut.
Kini, Centralia benar-benar menjadi kota mati. Asap putih masih terlihat keluar dari celah tanah, lubang-lubang panas tersebar di area kosong, dan api di bawah tanah terus menyala tanpa tanda akan padam.














