JAKARTA, Cobisnis.com – Sejumlah jaringan ritel terbesar di Amerika Serikat kini menggunakan teknologi pengenalan wajah untuk mencegah pencurian di toko. Namun, sebagian besar pelanggan tidak menyadari bahwa wajah mereka dipindai saat berbelanja.
Teknologi pengenalan wajah sebenarnya bukan hal baru dan telah digunakan secara kontroversial selama lebih dari satu dekade. Meski menuai penolakan luas di Amerika Serikat dan lebih umum digunakan di Inggris adopsinya terus meningkat di toko-toko AS dengan aturan yang minim dan hasil yang belum pasti. Satu hal yang konsisten: ketika publik mengetahuinya, penolakan keras pun muncul.
Hal ini terlihat dari kehebohan yang terjadi pekan ini terkait Wegmans, jaringan supermarket yang dikenal memiliki basis pelanggan fanatik. Perusahaan tersebut memicu kemarahan sebagian pembeli setelah mengungkapkan bahwa mereka menggunakan teknologi pengenalan wajah di toko-toko New York City.
New York City menjadi salah satu dari sedikit wilayah di AS yang mewajibkan tempat usaha komersial untuk mengungkapkan jika mereka mengumpulkan atau menyimpan data biometrik pelanggan. Undang-undang kota yang berlaku sejak 2021 juga melarang penjualan atau pembagian data biometrik tersebut. Sementara itu, upaya legislator negara bagian New York untuk melarang penggunaan teknologi pengenalan wajah oleh bisnis masih mandek.
Untuk mematuhi aturan tersebut, Wegmans memasang papan pemberitahuan di pintu masuk toko di Manhattan dan Brooklyn. Papan itu menyatakan bahwa data wajah, mata, dan suara pelanggan dapat dikumpulkan dan disimpan. Wegmans menyebut penggunaan teknologi ini bertujuan melindungi keselamatan pelanggan dan karyawan.
Laporan awal dari media Gothamist memicu perhatian luas, hingga mendorong Wegmans yang biasanya tertutup terhadap media mengeluarkan pernyataan publik. Perusahaan mengatakan teknologi tersebut hanya diterapkan di sebagian kecil toko yang dinilai memiliki risiko tinggi, dan digunakan untuk mengidentifikasi individu yang sebelumnya ditandai karena “perilaku tidak pantas”.
Namun, New York City merupakan pengecualian. Di sebagian besar wilayah AS, penggunaan teknologi biometrik masih minim pengawasan. Pakar privasi dari Electronic Privacy Information Center menyoroti kurangnya transparansi, potensi bias, serta ketiadaan regulasi yang melindungi hak sipil.
“Banyak penggunaan pengenalan wajah terjadi tanpa sepengetahuan publik,” ujar Jeramie Scott, penasihat senior lembaga tersebut. Ia menilai hukum belum mampu mengejar pesatnya perkembangan teknologi biometrik.
Selain Wegmans, banyak perusahaan besar lain juga mengandalkan teknologi serupa. Walmart, Kroger, dan Home Depot mencantumkan penggunaan biometrik dalam kebijakan privasi mereka. Umumnya, peritel memiliki daftar pantauan terhadap orang yang dicurigai melakukan pencurian, dan sistem akan memberi peringatan saat individu tersebut memasuki toko.
Namun, penyalahgunaan teknologi ini juga tercatat. Pada 2023, Rite Aid dilarang menggunakan pengenalan wajah selama lima tahun setelah Komisi Perdagangan Federal AS (FTC) menemukan adanya kesalahan identifikasi dan penargetan tidak adil terhadap kelompok minoritas. FTC menilai praktik tersebut berpotensi menimbulkan kerugian besar bagi konsumen.
Teknologi pengenalan wajah juga digunakan di arena hiburan. MSG Entertainment, pemilik Madison Square Garden dan Radio City Music Hall, diketahui memanfaatkan teknologi ini untuk membatasi akses pihak tertentu ke acara olahraga dan konser.
Seiring meluasnya penggunaan biometrik, para ahli menilai hampir semua peritel besar dan menengah kini memanfaatkannya. Namun, perusahaan cenderung enggan membicarakannya secara terbuka karena kekhawatiran publik Amerika terhadap pengawasan biometrik yang dinilai mengancam privasi dan hak sipil.














