JAKARTA, Cobisnis.com – Konsumsi makanan dan minuman manis yang tinggi gula disebut berpotensi merusak fungsi otak jika dilakukan terus-menerus. Kebiasaan ini masih sering ditemui dalam pola makan masyarakat Indonesia, terutama lewat minuman kemasan dan pemanis tambahan harian.
Spesialis penyakit dalam Dr Austin Perlmutter MD menyebut gula sebagai salah satu asupan yang berdampak signifikan terhadap kesehatan otak. Dampaknya tidak terjadi secara instan, melainkan melalui proses bertahap yang berlangsung dalam jangka panjang.
Otak membutuhkan glukosa untuk bekerja, namun dalam kadar yang stabil dan terkontrol. Lonjakan gula yang cepat justru memicu respons insulin berlebih dan berulang, yang dalam jangka panjang bisa menyebabkan resistensi insulin pada otak.
Kondisi tersebut berdampak pada berbagai fungsi penting seperti memori, fokus, suasana hati, hingga kemampuan mengambil keputusan. Gejala awal biasanya berupa kabut otak dan sulit berkonsentrasi sebelum berkembang menjadi gangguan kognitif.
Konsumsi minuman manis seperti soda, teh manis, minuman energi, dan jus kemasan mempercepat masuknya gula ke aliran darah dan otak. Pola ini umum terjadi dalam keseharian masyarakat perkotaan.
Sejumlah studi menunjukkan anak-anak yang sering mengonsumsi minuman manis memiliki risiko lebih tinggi mengalami ADHD di kemudian hari. Gangguan ini memengaruhi perilaku, fokus, dan kemampuan belajar.
Penelitian berbasis data kohort juga menemukan hubungan antara konsumsi gula berlebih sejak usia dini dengan penurunan skor IQ saat dewasa. Temuan ini menyoroti dampak jangka panjang terhadap kualitas sumber daya manusia.
Studi lain yang dikutip dari Harvard menunjukkan konsumsi fruktosa dan glukosa berlebih berkaitan dengan penuaan sel serta gangguan memori, berdasarkan uji laboratorium pada hewan.
Penggunaan pemanis buatan juga belum sepenuhnya aman. Riset selama delapan tahun di Brasil menunjukkan konsumsi pemanis rendah kalori dikaitkan dengan penurunan memori dan kelancaran berpikir, terutama pada usia produktif.
Para ahli menyarankan pengurangan konsumsi minuman manis dan beralih ke air putih atau teh tanpa gula sebagai langkah sederhana melindungi kesehatan otak dan fungsi kognitif jangka panjang.














