JAKARTA, Cobisnis.com – Warga Ukraina terus mencari cara untuk bertahan dan melanjutkan hidup meski pemadaman listrik berkepanjangan kembali melanda, seiring Rusia menggempur sistem energi negara itu dengan serangan drone dan rudal. Pemadaman yang bisa berlangsung hingga 16 jam sehari kini menjadi bagian dari rutinitas, terutama saat musim dingin dengan suhu beku.
Liudmyla Shramko, warga Kyiv berusia 40 tahun, meninggalkan ibu kota Ukraina pada 2024 bersama dua anak kembarnya demi menghindari serangan dan pemadaman. Namun setahun kemudian, kondisi serupa justru ia alami di wilayah barat Ukraina. Ia mengenang pengalaman sulit saat pemadaman listrik tak terjadwal selama dua hari di Kyiv pada musim panas 2024, ketika suhu mencapai 40 derajat Celsius dan ia tak bisa menyalakan pendingin ruangan, memasak, atau menggunakan lift.
Saat pindah kota, Shramko memilih apartemen dengan fasilitas yang lebih tahan pemadaman, seperti kompor gas. Namun kini, pemadaman kembali terjadi di musim dingin, saat listrik padam berarti pemanas rumah juga berhenti bekerja. Serangan Rusia dalam beberapa pekan terakhir telah membuat puluhan ribu warga kehilangan listrik dan pemanas. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyebut serangan ini bertujuan menciptakan kekacauan dan tekanan psikologis bagi masyarakat.
Di Kyiv, serangan besar pada 27 Desember menyebabkan lebih dari 40% bangunan tempat tinggal kehilangan pemanas. Sepanjang Desember, warga ibu kota rata-rata mengalami pemadaman listrik selama 9,5 jam per hari. Dengan sistem energi yang tertekan, pemadaman bergilir kini mengatur ritme kehidupan sehari-hari.
Para ibu berlomba mencuci pakaian anak saat listrik menyala. Warga lanjut usia menunggu listrik kembali agar bisa menggunakan lift. Kafe dan restoran menyesuaikan menu serta harga, tergantung apakah mereka memakai listrik dari jaringan atau generator diesel.
Di Kamianets-Podilskyi, kota tempat Shramko kini tinggal, penerangan jalan hampir tak ada di malam hari. Ia dan suaminya membawa anak-anak keluar rumah di pagi hari sebelum gelap. Anak-anak kembarnya bahkan sudah terbiasa dengan suara generator dan bisa tidur nyenyak meski bising.
Bagi banyak warga, ketidakpastian adalah beban terberat. Serangan Rusia yang terus berlanjut memperparah dampak pemadaman terjadwal. Kekhawatiran utama adalah jika listrik padam berhari-hari dan baterai tak bisa diisi ulang untuk lampu, ponsel, atau laptop.
Di Odesa, serangan Rusia pada pertengahan Desember juga memutus pasokan air. Seorang warga bernama Valeriya menggambarkan malam itu sebagai “apokaliptik,” dengan rudal balistik, drone Shahed, dan tembakan pertahanan udara. Listrik, air, dan pemanas langsung terputus. Keesokan harinya, ia pergi ke kafe untuk mengisi daya ponsel dan menghangatkan diri, meski kafe itu pun kehabisan air.
Di tengah keterbatasan, kreativitas muncul. Seorang penari Opera Odesa memamerkan “mandi tak terkalahkan” menggunakan dispenser air dan power bank. Di Kyiv, pelatihan olahraga dan sekolah musik tetap berjalan meski peralatan harus dioperasikan secara manual.
“Kurangnya cahaya bukan alasan untuk berhenti hidup,” kata Oksana Daniluk, ibu tiga anak di Kyiv. Senada dengan itu, Shramko menegaskan dunia tak perlu mengasihani Ukraina, melainkan mendukungnya. Menurutnya, meski empat tahun perang telah mengubah kehidupan, rakyat Ukraina semakin kuat dan layak mendapat solidaritas global.














