JAKARTA, Cobisnis.com – Memadukan kekayaan budaya Yogyakarta dengan praktik wellness dalam semangat pariwisata berkelanjutan, sekaligus memperkuat daya tarik Yogyakarta bagi wisatawan, Kementerian Pariwisata mendukung penyelenggaraan Jogja Cultural Wellness Festival (JCWF) 2026.
JCWF 2026 akan berlangsung pada 6–8 November 2026 di Loman Park Hotel Yogyakarta. Selama tiga hari, festival ini menghadirkan beragam pengalaman yang mempertemukan praktik wellness, ekspresi budaya, kreativitas, dan gaya hidup berkelanjutan.
Pengunjung dapat mengeksplorasi lima experience zone, yakni “Mind & Body”, “Healing & Therapy”, “Nature Connection”, “Creative Expression”, dan “Culinary Wellness”. Rangkaian kegiatan mencakup yoga, meditasi, lokakarya jamu, terapi seni, serta forum Pentahelix untuk memperkuat kerja sama antarpelaku industri.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengatakan Indonesia memiliki kekayaan budaya dan tradisi yang menjadi modal penting dalam pengembangan pariwisata. Salah satunya cultural wellness yang memadukan nilai budaya, praktik kebugaran, kreativitas, serta hubungan harmonis antara manusia dan alam.
“Yogyakarta memiliki potensi besar dalam pengembangan cultural wellness dan kehadiran Jogja Cultural Wellness Festival akan semakin memperkuat posisi Yogyakarta sebagai destinasi cultural wellness yang memiliki karakter dan daya saing,” kata Menteri Pariwisata melalui siaran persnya yang diterima Cobisnis.com, Sabtu (31/10/2026).
Menteri Pariwisata mengatakan JCWF yang diinisiasi Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi ruang inovasi untuk mengembangkan pariwisata berbasis budaya yang tidak hanya menawarkan pengalaman wisata, tetapi juga mendorong kesejahteraan masyarakat, menggerakkan ekonomi lokal, dan menjaga keberlanjutan lingkungan.
“Melalui tema ‘RECONNECT: Reconnecting People, Culture & Wellbeing’, Jogja Cultural Wellness Festival 2026 mengajak kita melihat wellness bukan sekadar aktivitas perawatan diri, tetapi juga sebagai upaya membangun kembali hubungan dengan budaya, lingkungan, dan sesama,” kata Menpar Widiyanti.
Menteri Pariwisata menjelaskan, permintaan terhadap perjalanan yang mengintegrasikan aktivitas kebugaran, perawatan diri, dan keseimbangan fisik maupun mental terus meningkat. Hal tersebut tercermin dari data Global Wellness Institute yang mencatat bahwa pengeluaran global untuk wellness tourism mencapai 893,9 miliar dolar AS pada tahun 2024.
Sementara, di kawasan Asia Pasifik, tercatat 562,7 juta perjalanan wellness dengan nilai pengeluaran wisatawan mencapai 215 miliar dolar AS.
“Indonesia memiliki keunggulan melalui tradisi jamu, rempah Nusantara, perawatan tradisional, serta praktik kebugaran berbasis kearifan lokal yang menjadi pembeda di pasar internasional,” kata Menteri Pariwisata.
Menjawab peluang tersebut, Kementerian Pariwisata menempatkan wellness tourism sebagai bagian dari pengembangan wisata minat khusus dalam program prioritas Pariwisata Berkualitas.
Kementerian Pariwisata juga telah mengembangkan Wellness Journey Across the Java Wonders, dengan sepuluh jalur dan tema perjalanan yang mengangkat potensi kebugaran berbasis alam dan budaya Jawa. Selain itu, Kementerian Pariwisata juga sedang menyusun direktori wisata wellness Indonesia untuk menyediakan informasi mengenai destinasi, produk, layanan, dan pelaku industri.
“Melalui Wonderful Indonesia Scale-up Hub (WISH), kami memberikan pendampingan bisnis bagi penyedia paket wisata gastronomi dan wellness, guna meningkatkan kapasitas usaha dan kesiapan produk memasuki pasar,” kata Menpar Widiyanti Putri.
Lebih lanjut, Menteri Pariwisata mengungkapkan, pengembangan pariwisata berbasis budaya membutuhkan kolaborasi kuat antara pemerintah, industri, akademisi, komunitas, dan pelaku usaha.
Melalui kolaborasi tersebut, potensi lokal dapat dikembangkan menjadi produk wisata berdaya saing tanpa kehilangan identitas dan nilai budaya yang menjadi kekuatannya. Partisipasi berbagai daerah juga menunjukkan semakin luasnya peluang kolaborasi dalam pengembangan ekosistem cultural wellness.
“Kami berharap keterlibatan tersebut dapat membuka peluang jejaring dan kerja sama baru, memperkuat produk lokal, serta memperluas manfaat ekonomi pariwisata bagi masyarakat. Kami mengajak masyarakat, wisatawan, komunitas, dan seluruh pelaku industri pariwisata untuk turut menyukseskan Jogja Cultural Wellness Festival 2026,” kata Menteri Pariwisata.
Sementara, Ketua BPPD DIY GKR Bendara mengatakan kekayaan filosofi dan praktik budaya Jawa memiliki relevansi kuat dengan konsep wellbeing yang berkembang saat ini. Nilai hamemayu hayuning bawana, filosofi sawiji, greget, sengguh, ora mingkuh, serta semangat gotong royong dan harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta menjadi landasan penting dalam membangun kehidupan yang lebih seimbang dan bermakna.
“Budaya adalah ruh utama yang menghubungkan manusia dengan identitasnya. Melalui JCWF 2026, kami berkomitmen membangun ekosistem pariwisata berbasis cultural wellness yang tidak hanya memperkaya pengalaman wisatawan, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, memperkuat pelaku usaha lokal, dan meningkatkan daya saing Yogyakarta di tingkat nasional maupun internasional,” jelas GKR Bendara.
Menpar: JCWF 2026 Makin Perkuat Yogyakarta jadi Destinasi Cultural Wellness
JAKARTA, Cobisnis.com – Memadukan kekayaan budaya Yogyakarta dengan praktik wellness dalam semangat pariwisata berkelanjutan, sekaligus memperkuat daya tarik Yogyakarta bagi wisatawan, Kementerian Pariwisata mendukung penyelenggaraan Jogja Cultural Wellness Festival (JCWF) 2026.
JCWF 2026 akan berlangsung pada 6–8 November 2026 di Loman Park Hotel Yogyakarta. Selama tiga hari, festival ini menghadirkan beragam pengalaman yang mempertemukan praktik wellness, ekspresi budaya, kreativitas, dan gaya hidup berkelanjutan.
Pengunjung dapat mengeksplorasi lima experience zone, yakni “Mind & Body”, “Healing & Therapy”, “Nature Connection”, “Creative Expression”, dan “Culinary Wellness”. Rangkaian kegiatan mencakup yoga, meditasi, lokakarya jamu, terapi seni, serta forum Pentahelix untuk memperkuat kerja sama antarpelaku industri.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengatakan Indonesia memiliki kekayaan budaya dan tradisi yang menjadi modal penting dalam pengembangan pariwisata. Salah satunya cultural wellness yang memadukan nilai budaya, praktik kebugaran, kreativitas, serta hubungan harmonis antara manusia dan alam.
“Yogyakarta memiliki potensi besar dalam pengembangan cultural wellness dan kehadiran Jogja Cultural Wellness Festival akan semakin memperkuat posisi Yogyakarta sebagai destinasi cultural wellness yang memiliki karakter dan daya saing,” kata Menteri Pariwisata melalui siaran persnya yang diterima Cobisnis.com, Sabtu (31/10/2026).
Menteri Pariwisata mengatakan JCWF yang diinisiasi Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi ruang inovasi untuk mengembangkan pariwisata berbasis budaya yang tidak hanya menawarkan pengalaman wisata, tetapi juga mendorong kesejahteraan masyarakat, menggerakkan ekonomi lokal, dan menjaga keberlanjutan lingkungan.
“Melalui tema ‘RECONNECT: Reconnecting People, Culture & Wellbeing’, Jogja Cultural Wellness Festival 2026 mengajak kita melihat wellness bukan sekadar aktivitas perawatan diri, tetapi juga sebagai upaya membangun kembali hubungan dengan budaya, lingkungan, dan sesama,” kata Menpar Widiyanti.
Menteri Pariwisata menjelaskan, permintaan terhadap perjalanan yang mengintegrasikan aktivitas kebugaran, perawatan diri, dan keseimbangan fisik maupun mental terus meningkat. Hal tersebut tercermin dari data Global Wellness Institute yang mencatat bahwa pengeluaran global untuk wellness tourism mencapai 893,9 miliar dolar AS pada tahun 2024.
Sementara, di kawasan Asia Pasifik, tercatat 562,7 juta perjalanan wellness dengan nilai pengeluaran wisatawan mencapai 215 miliar dolar AS.
“Indonesia memiliki keunggulan melalui tradisi jamu, rempah Nusantara, perawatan tradisional, serta praktik kebugaran berbasis kearifan lokal yang menjadi pembeda di pasar internasional,” kata Menteri Pariwisata.
Menjawab peluang tersebut, Kementerian Pariwisata menempatkan wellness tourism sebagai bagian dari pengembangan wisata minat khusus dalam program prioritas Pariwisata Berkualitas.
Kementerian Pariwisata juga telah mengembangkan Wellness Journey Across the Java Wonders, dengan sepuluh jalur dan tema perjalanan yang mengangkat potensi kebugaran berbasis alam dan budaya Jawa. Selain itu, Kementerian Pariwisata juga sedang menyusun direktori wisata wellness Indonesia untuk menyediakan informasi mengenai destinasi, produk, layanan, dan pelaku industri.
“Melalui Wonderful Indonesia Scale-up Hub (WISH), kami memberikan pendampingan bisnis bagi penyedia paket wisata gastronomi dan wellness, guna meningkatkan kapasitas usaha dan kesiapan produk memasuki pasar,” kata Menpar Widiyanti Putri.
Lebih lanjut, Menteri Pariwisata mengungkapkan, pengembangan pariwisata berbasis budaya membutuhkan kolaborasi kuat antara pemerintah, industri, akademisi, komunitas, dan pelaku usaha.
Melalui kolaborasi tersebut, potensi lokal dapat dikembangkan menjadi produk wisata berdaya saing tanpa kehilangan identitas dan nilai budaya yang menjadi kekuatannya. Partisipasi berbagai daerah juga menunjukkan semakin luasnya peluang kolaborasi dalam pengembangan ekosistem cultural wellness.
“Kami berharap keterlibatan tersebut dapat membuka peluang jejaring dan kerja sama baru, memperkuat produk lokal, serta memperluas manfaat ekonomi pariwisata bagi masyarakat. Kami mengajak masyarakat, wisatawan, komunitas, dan seluruh pelaku industri pariwisata untuk turut menyukseskan Jogja Cultural Wellness Festival 2026,” kata Menteri Pariwisata.
Sementara, Ketua BPPD DIY GKR Bendara mengatakan kekayaan filosofi dan praktik budaya Jawa memiliki relevansi kuat dengan konsep wellbeing yang berkembang saat ini. Nilai hamemayu hayuning bawana, filosofi sawiji, greget, sengguh, ora mingkuh, serta semangat gotong royong dan harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta menjadi landasan penting dalam membangun kehidupan yang lebih seimbang dan bermakna.
“Budaya adalah ruh utama yang menghubungkan manusia dengan identitasnya. Melalui JCWF 2026, kami berkomitmen membangun ekosistem pariwisata berbasis cultural wellness yang tidak hanya memperkaya pengalaman wisatawan, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, memperkuat pelaku usaha lokal, dan meningkatkan daya saing Yogyakarta di tingkat nasional maupun internasional,” jelas GKR Bendara.













