JAKARTA, Cobisnis.com – Rasa haus yang tidak kunjung hilang meski telah minum air putih bisa menandakan bahwa keseimbangan cairan tubuh belum terpenuhi. Hal ini dapat terjadi ketika tubuh kehilangan lebih banyak cairan daripada yang diperoleh dari minuman maupun makanan.
Kekurangan cairan tidak selalu disebabkan oleh sedikitnya konsumsi air putih. Sejumlah faktor lain, mulai dari aktivitas fisik hingga kondisi kesehatan dan efek penggunaan obat, juga dapat memengaruhi kemampuan tubuh mempertahankan cairan.
Spesialis penyakit dalam Kayla Rapp menguraikan delapan faktor yang dapat memengaruhi keseimbangan cairan tubuh. Penjelasan tersebut merujuk pada informasi dari Cleveland Clinic, dikutip Kamis (29/10/2026).
“Secara umum, ada delapan faktor yang dapat memengaruhi kadar cairan dalam tubuh,” jelasnya.
1. Kebutuhan Air Putih Belum Terpenuhi
Salah satu pemicu dehidrasi yang paling umum adalah jumlah cairan yang masuk tidak mencukupi kebutuhan tubuh. Seseorang bisa saja merasa telah banyak minum, tetapi asupan tersebut belum tentu sesuai dengan kebutuhannya.
Kebutuhan cairan dipengaruhi oleh berbagai hal, termasuk aktivitas sehari-hari, suhu lingkungan, jumlah keringat yang dihasilkan, serta makanan yang dikonsumsi.
“Aturan umumnya adalah minum ketika merasa haus,” ujar Kayla.
Meski demikian, kemampuan mengenali rasa haus dapat menurun seiring pertambahan usia. Kondisi ini membuat orang lanjut usia perlu lebih memperhatikan asupan cairan meskipun tidak selalu merasa haus.
2. Kadar Elektrolit Tidak Seimbang
Air bukan satu-satunya komponen yang dibutuhkan untuk menjaga keseimbangan cairan. Tubuh juga memerlukan elektrolit, seperti natrium dan kalium, yang berperan dalam fungsi otot, saraf, serta pengaturan cairan.
Ketika seseorang mengalami diare atau mengeluarkan banyak keringat, air dan elektrolit dapat hilang secara bersamaan. Dalam situasi tersebut, penggantian cairan perlu mempertimbangkan jumlah elektrolit yang turut berkurang.
“Air mengandung hidrogen dan oksigen,” jelasnya. “Namun, air tidak mengandung elektrolit yang dibutuhkan tubuh.”
Elektrolit bisa didapatkan dari beragam bahan pangan, antara lain pisang dan alpukat sebagai sumber kalium, susu yang mengandung kalsium, serta sayuran hijau yang menyediakan magnesium.
3. Mengonsumsi Air Terlalu Banyak dalam Waktu Singkat
Minum air secara rutin membantu menjaga hidrasi, tetapi menghabiskan air dalam jumlah besar sekaligus bukan pendekatan yang ideal.
Ketika asupan air melebihi kemampuan tubuh untuk mengaturnya, kelebihan cairan akan dikeluarkan melalui urine. Konsumsi air yang berlebihan dalam waktu singkat juga berisiko menurunkan kadar natrium dalam darah, yang dapat memicu kondisi serius.
Karena itu, Kayla menyarankan agar konsumsi air dilakukan secara berkala sepanjang hari. Cara ini membantu tubuh menerima cairan secara bertahap sesuai kebutuhan.
4. Kehilangan Cairan akibat Keringat
Saat berolahraga atau berada di tempat bersuhu tinggi, tubuh mengeluarkan keringat untuk menjaga suhu tetap stabil. Namun, mekanisme tersebut sekaligus menyebabkan hilangnya air dan elektrolit.
Kehilangan cairan dapat meningkat ketika aktivitas berlangsung lama atau dilakukan dengan intensitas tinggi. Jika cairan yang hilang tidak segera diganti secara memadai, risiko dehidrasi pun bertambah.
Selain memperhatikan jumlah air yang diminum, seseorang juga perlu mempertimbangkan kebutuhan elektrolit, terutama setelah aktivitas fisik berat yang menghasilkan banyak keringat.
5. Terlalu Banyak Mengonsumsi Kopi dan Minuman Lain
Jenis minuman yang dikonsumsi turut memengaruhi keseimbangan cairan. Kopi, minuman bersoda, minuman berenergi, dan alkohol dapat memberikan efek berbeda terhadap produksi urine.
Beberapa di antaranya memiliki efek diuretik, yakni meningkatkan pengeluaran urine. Efek ini perlu diperhatikan terutama jika minuman dikonsumsi secara berlebihan dan cairan yang keluar tidak diganti dengan cukup.
Menjaga variasi minuman serta memperhatikan jumlah konsumsinya dapat membantu mengurangi risiko gangguan keseimbangan cairan.
6. Tubuh Kehilangan Cairan ketika Sakit
Muntah, diare, demam, dan keringat berlebih merupakan kondisi yang dapat membuat tubuh kehilangan cairan lebih cepat daripada biasanya.
Saat mengalami gangguan kesehatan tersebut, konsumsi cairan dalam jumlah kecil tetapi dilakukan berulang kali dapat membantu memenuhi kebutuhan tubuh. Sup ayam juga dapat menjadi pilihan karena menyediakan cairan sekaligus garam.
“Hal baik dari sup ayam adalah kandungan garamnya, yang membantu mempertahankan air di dalam tubuh,” ujarnya.
Apabila muntah terjadi berulang atau diare berlangsung berat, larutan rehidrasi oral dapat membantu mengganti cairan dan elektrolit yang hilang. Pemeriksaan medis diperlukan jika keluhan tidak membaik atau kondisi semakin parah.
7. Penggunaan Obat yang Memicu Kehilangan Cairan
Dehidrasi juga dapat berkaitan dengan efek samping obat tertentu. Obat diuretik, misalnya, bekerja meningkatkan pengeluaran air melalui urine. Sementara itu, obat pencahar, antasida tertentu, dan beberapa obat tekanan darah juga dapat memengaruhi keseimbangan cairan.
Jika muncul tanda-tanda dehidrasi selama menjalani pengobatan, pasien sebaiknya berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui kemungkinan penyebabnya.
Menghentikan pengobatan atau mengubah dosis tanpa petunjuk dokter perlu dihindari, terutama bagi pasien yang menggunakan obat untuk mengendalikan penyakit tertentu.
8. Adanya Gangguan Kesehatan yang Mendasari
Dehidrasi yang berulang atau muncul tanpa alasan yang jelas dapat berkaitan dengan kondisi medis tertentu. Beberapa di antaranya adalah diabetes, penyakit radang usus, sindrom Sjögren, fibrosis kistik, gastroenteritis, sepsis, dan penyakit Addison.
Kondisi-kondisi tersebut dapat meningkatkan kehilangan cairan atau mengganggu kemampuan tubuh dalam mempertahankan keseimbangannya.
“Dehidrasi perlu dibicarakan dengan tenaga kesehatan karena bisa menjadi tanda kondisi kesehatan yang lebih serius,” ujarnya.
Kayla menyarankan agar perubahan pola rasa haus, warna urine, atau kebiasaan minum yang tidak biasa disampaikan kepada tenaga medis untuk mendapatkan evaluasi lebih lanjut.
Apabila kekurangan cairan disertai gejala serius, seperti kebingungan, penurunan kesadaran, atau kelemahan berat, pertolongan medis harus segera dicari.













