JAKARTA, Cobisnis.com – Produsen otomotif asal Amerika Serikat, General Motors (GM), memutuskan menutup fasilitas perakitan baterai dan motor listrik di Brownstown, Michigan. Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari penyesuaian strategi kendaraan listrik (EV) perusahaan di tengah persaingan pasar yang semakin ketat.
Fasilitas seluas 480.000 kaki persegi tersebut akan dinonaktifkan sepenuhnya ketika masa sewanya berakhir pada musim panas 2027.
Penutupan pabrik Brownstown menandai perubahan signifikan dalam arah bisnis kendaraan listrik GM selama setahun terakhir. Fasilitas yang beroperasi sejak 2009 itu sebelumnya memproduksi komponen baterai untuk Cadillac Celestiq, serta motor listrik dan paket baterai berukuran kecil untuk Chevrolet Corvette E-Ray.
Selain itu, pabrik tersebut pernah digunakan bersama Honda untuk mengembangkan teknologi sel bahan bakar hidrogen atau fuel cell. Pada awal operasinya, fasilitas Brownstown juga memproduksi sejumlah komponen untuk Chevrolet Volt.
Keputusan penutupan berkaitan dengan perubahan portofolio produk GM. Chevrolet Corvette E-Ray kini telah digantikan oleh Corvette Grand Sport X, sedangkan penjualan Cadillac Celestiq masih tergolong minim. Di sisi lain, kerja sama pengembangan teknologi hidrogen dengan Honda juga telah dihentikan.
Mengutip laporan Automotive News, jumlah pekerja di pabrik Brownstown kini tersisa kurang dari 12 orang, turun drastis dibandingkan sebelumnya yang mencapai sekitar 300 pekerja.
Sebagai tindak lanjut dari kesepakatan dengan serikat pekerja United Auto Workers (UAW), GM menawarkan pemindahan kerja ke fasilitas terdekat bagi karyawan yang terdampak. Seluruh pekerjaan yang masih tersisa di Brownstown nantinya akan dialihkan ke pabrik GM lainnya.
Selain Brownstown, masa depan fasilitas kedua GM di Detroit juga belum memiliki kejelasan. Pada 2024, GM sempat menjalin kemitraan dengan Piston Automotive untuk membangun pabrik sel bahan bakar hidrogen seluas 300.000 kaki persegi.
Namun, setelah kemitraan tersebut dibatalkan, GM mengambil alih sewa lahan itu. Hingga kini, perusahaan belum menentukan rencana penggunaan fasilitas tersebut ke depan.
Penutupan dan penyesuaian fasilitas ini menjadi bagian dari langkah GM untuk menata kembali investasi besar-besaran di sektor mobil listrik. Meski CEO GM Mary Barra terus menegaskan bahwa kendaraan listrik tetap menjadi arah utama perusahaan, GM telah beberapa kali mengubah portofolio bisnisnya.
Salah satu langkah tersebut terlihat pada proyek pabrik baterai senilai US$3,5 miliar di Indiana yang dibangun bersama Samsung SDI pada 2024. Dua bulan lalu, GM resmi menjual 49,99 persen kepemilikannya di fasilitas tersebut kepada Samsung dengan nilai transaksi yang tidak diungkapkan.
Setelah kepemilikan beralih sepenuhnya kepada Samsung, pabrik di Indiana diproyeksikan memproduksi baterai untuk sistem penyimpanan energi atau energy storage systems. Fasilitas itu juga berpeluang memproduksi sel baterai prismatik untuk produk GM pada masa mendatang, meskipun kesepakatan resminya belum ditetapkan.
Setelah melepas sebagian kepemilikannya dalam proyek tersebut, GM mengumumkan arsitektur kendaraan listrik generasi keempat yang sepenuhnya baru. Perusahaan juga memperkenalkan rencana pengembangan baterai berbiaya lebih rendah dengan kandungan litium dan mangan tinggi, yang dirancang secara mandiri dengan dukungan teknologi kecerdasan artifisial (AI).













