JAKARTA, Cobisnis.com – Melalui program Wonderful Indonesia Scale-up Hub (WISH) 2026, Kementerian Pariwisata membuka peluang perluasan akses pasar, investasi, dan kemitraan bagi pelaku usaha pariwisata melalui yang memberikan pelatihan, pendampingan bisnis, serta kesempatan membangun jejaring usaha untuk meningkatkan daya saing industri pariwisata nasional.
Pelaksana Tugas (Plt.) Deputi Bidang Industri dan Investasi Kementerian Pariwisata Rizki Handayani mengatakan, WISH merupakan program akselerasi bisnis yang dirancang untuk meningkatkan kapasitas pelaku usaha pariwisata, baik dari aspek pengelolaan bisnis, kualitas produk dan layanan, maupun akses terhadap pasar, permodalan, dan kemitraan strategis.
“Melalui pelatihan, pendampingan, mentoring, dan _business matching_, program ini diharapkan dapat menjembatani potensi usaha dengan peluang pengembangan bisnis yang lebih konkret,” ucap Rizki melalui siaran persnya yang diterima Cobisnis, Sabtu (17/10/2026).
Memasuki tahun kedua penyelenggaraan, WISH 2026 berfokus pada pengembangan usaha pariwisata di tiga bidang unggulan, yakni gastronomi, wellness, dan cultural heritage atau wisata berbasis warisan budaya.
Ketiga bidang tersebut dinilai memiliki potensi besar untuk menghadirkan pengalaman wisata yang autentik sekaligus meningkatkan nilai tambah ekonomi dari kekayaan kuliner, tradisi, budaya, dan potensi lokal Indonesia.
Setelah melalui seleksi administrasi, peningkatan kapasitas (capacity building) tahap I dan II, kurasi, serta pendampingan mentor, sebanyak 25 peserta terpilih mengikuti Demo Day WISH 2026.
Kegiatan puncak tersebut menjadi kesempatan bagi peserta untuk mempresentasikan perkembangan usaha, inovasi, keunggulan produk, serta kesiapan bisnis mereka di hadapan calon investor, mitra usaha, dan pemangku kepentingan industri pariwisata.
Rizki menjelaskan, perubahan preferensi wisatawan yang semakin mengutamakan pengalaman personal dan bermakna membuka peluang bagi pelaku usaha lokal untuk menghadirkan produk wisata yang memiliki karakter serta identitas kuat.
Menurutnya, kekayaan budaya dan keunikan setiap daerah merupakan modal penting bagi Indonesia untuk menghadirkan pengalaman wisata yang tidak hanya menarik, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat.
“Experience adalah yang dicari oleh para wisatawan dalam berwisata. Dan pelaku usaha yang terkurasi ini adalah mereka yang memang sudah punya rekam jejak untuk mengembangkan perjalanan yang bisa memberikan experience. Mereka punya storytelling yang kuat sekali di daerah masing-masing,” kata Rizki.
Untuk itu, Rizki berharap WISH 2026 tidak hanya menjadi ruang peningkatan kapasitas, tetapi juga menghasilkan peluang bisnis yang dapat ditindaklanjuti melalui investasi, akses permodalan, perluasan pasar, dan kemitraan jangka panjang.
Keberlanjutan kolaborasi tersebut diharapkan mampu membantu pelaku usaha pariwisata meningkatkan skala bisnis sekaligus menghadirkan produk dan layanan yang semakin kompetitif di pasar domestik maupun internasional.
Sementara, Asisten Deputi Pengembangan Usaha dan Akses Permodalan Kementerian Pariwisata Hanifah Makarim menjelaskan, rangkaian WISH 2026 telah berlangsung sejak pertengahan tahun dengan jumlah pendaftar mencapai 564 pelaku usaha.
Dari keseluruhan pendaftar tersebut, dilakukan proses seleksi dan kurasi secara bertahap hingga terpilih 25 peserta dari 19 provinsi untuk mengikuti Demo Day WISH 2026.
Para peserta terpilih berasal dari berbagai bidang usaha pariwisata yang menawarkan pengalaman wisata berbasis alam, budaya, sejarah, gastronomi, kebugaran, serta perjalanan tematik dengan karakteristik daerah masing-masing.
Dalam kegiatan business matching, para peserta berkesempatan bertemu langsung dengan berbagai perusahaan, lembaga keuangan, investor, dan mitra potensial untuk menjajaki kerja sama pengembangan bisnis.
“Rangkaian Demo Day memberikan kesempatan bagi peserta untuk _pitching_ di hadapan dewan juri dan ditutup dengan business matching,” kata Hanifah.
Penyelenggaraan Demo Day WISH 2026 juga berkolaborasi dengan Wonderful Indonesia Tourism Fair (WITF) 2026 di Jakarta. Kolaborasi tersebut memberikan kesempatan lebih luas bagi peserta untuk membangun jejaring dengan ratusan pembeli potensial (buyer) yang hadir dalam pameran pariwisata tersebut.
Melalui pertemuan langsung dengan para pelaku industri, peserta tidak hanya memperoleh kesempatan memperkenalkan produk dan layanan, tetapi juga dapat memahami kebutuhan pasar, menjajaki peluang distribusi, serta membangun kerja sama yang berpotensi meningkatkan jangkauan bisnis mereka.
Salah satu hasil konkret dari kegiatan ini adalah terjalinnya kerja sama antara tiga peserta Demo Day WISH 2026 dengan Atourin dalam pengembangan akses pasar.
Ketiga peserta tersebut adalah YukBanyuwangi, Siak Riverland, dan Roemah Martha Tilaar. Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) di sela-sela penyelenggaraan Demo Day WISH 2026.
Kesepakatan ini menjadi salah satu langkah awal untuk memperluas jangkauan pemasaran produk wisata lokal melalui kolaborasi dengan mitra industri yang memiliki jaringan dan akses pasar lebih luas.
Hanifah berharap berbagai peluang yang tercipta melalui WISH 2026 dapat ditindaklanjuti menjadi kemitraan bisnis yang berkelanjutan sehingga manfaat program tidak berhenti pada kegiatan pelatihan dan pertemuan usaha.
“Kami berharap dengan Demo Day hari ini bisa membantu para pelaku usaha yang sudah datang di sini untuk mengembangkan usaha dan berkembang lebih maju lagi,” ungkap Hanifah.
Manfaat program WISH 2026 juga dirasakan langsung oleh para peserta yang memperoleh pembelajaran mengenai pengelolaan bisnis, pengembangan produk, kepemimpinan, serta strategi menarik minat investor.
Salah satunya adalah Co-Founder Neira Explorer Journey, Ismy Wahyu, yang mengembangkan paket perjalanan wisata untuk memperkenalkan keindahan alam, kekayaan sejarah, dan budaya Banda Neira, Maluku.
Ismy mengatakan, keikutsertaannya dalam WISH 2026 memberikan pemahaman baru bahwa keberhasilan usaha pariwisata tidak hanya ditentukan oleh kualitas produk dan pengelolaan keuangan, tetapi juga kemampuan kepemimpinan dalam membangun kepercayaan mitra dan investor.
“Selain laporan keuangan serta produk yang baik, karakter dari seorang pemimpin ternyata juga memberikan pengaruh bagi kami pelaku usaha dalam menarik minat investor,” kata Ismy.
Menurutnya, pembelajaran tersebut menjadi bekal penting untuk membangun usaha yang lebih profesional, memiliki arah pengembangan yang jelas, dan mampu menjawab kebutuhan pasar pariwisata yang terus berubah.
Selain memperoleh pendampingan bisnis, Ismy juga mendapatkan kesempatan membangun jejaring dengan pelaku usaha dari berbagai daerah yang memiliki pengalaman, karakter produk, dan potensi kolaborasi berbeda.
Kesempatan tersebut membuka perspektif baru dalam mengembangkan paket perjalanan wisata Banda Neira sekaligus menjajaki kerja sama yang dapat memperluas jangkauan pasar Neira Explorer Journey.
Bagi pelaku usaha pariwisata daerah, akses terhadap jejaring bisnis dan pendampingan yang berkesinambungan menjadi kebutuhan penting agar potensi wisata lokal dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dan mampu bersaing secara berkelanjutan.
“Jadi saya pribadi mengucapkan terima kasih atas program dari Kementerian Pariwisata ini karena telah memberi jangkauan yang lebih luas bagi kami. Tentunya kami berharap event ini terus ada dan pendampingan juga monitoring berkelanjutan bisa terus dilakukan,” kata Ismy.













