JAKARTA, Cobisnis.com – Amerika Serikat dan China menunjukkan pendekatan berbeda terhadap pengembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Perbedaan itu muncul saat dunia semakin memperdebatkan risiko dan manfaat teknologi tersebut.
Pekan lalu, perhatian global tertuju pada kemungkinan AI berkembang tanpa kendali. Karena itu, banyak pihak meminta pemerintah dan perusahaan teknologi memperlambat laju pengembangannya.
Namun, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan sikap yang berbeda. Ia menilai AS harus tetap memimpin perlombaan AI melawan China.
Trump mengabaikan seruan sejumlah ilmuwan AI dan petinggi perusahaan teknologi. Beberapa di antaranya berasal dari Anthropic, OpenAI, dan Google.
Menurut Trump, keunggulan AI memiliki dampak strategis yang besar. Karena itu, ia ingin memastikan AS tetap berada di posisi terdepan.
“Kami memimpin China dalam AI, dan saya ingin mempertahankannya. Siapa pun yang menang dalam AI akan menang,” kata Trump pada Sabtu.
Sementara itu, Presiden China Xi Jinping menyampaikan pandangan yang lebih berfokus pada kerja sama internasional. Ia menyerukan kolaborasi yang lebih luas dalam pengembangan AI.
Dalam pidatonya di India pada Minggu, Xi mendorong negara-negara untuk mendukung pendekatan terbuka. Selain itu, ia mengajak komunitas internasional memperkuat kolaborasi dan berbagi teknologi.
Xi juga kembali mengusulkan pembentukan pakta tata kelola AI global. Meski begitu, ia belum menjelaskan secara rinci bentuk maupun mekanisme kerangka tersebut.
Perbedaan sikap kedua pemimpin menunjukkan arah kebijakan yang kontras. Di satu sisi, AS menekankan persaingan teknologi dengan China. Di sisi lain, Beijing mendorong kerja sama global dalam pengembangan AI.
Karena itu, persaingan antara dua ekonomi terbesar dunia diperkirakan akan terus memengaruhi arah industri AI global dalam beberapa tahun mendatang.













