• © Copyright 2025 Cobinis.com – All Right Reserved
Tuesday, September 15, 2026
Cobisnis
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Ekonomi Bisnis
  • Nasional
  • Lifestyle
  • Entertaiment
  • Humaniora
  • Sport
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Foto
  • Beranda
  • Ekonomi Bisnis
  • Nasional
  • Lifestyle
  • Entertaiment
  • Humaniora
  • Sport
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Foto
No Result
View All Result
Cobisnis
No Result
View All Result
Home Lifestyle

Wamenpar Dorong Pariwisata Aceh yang Berkelanjutan dan Berkualitas

Chodijah Febriani by Chodijah Febriani
September 15, 2026
in Lifestyle
0
Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa berkunjung ke sejumlah destinasi wisata di Aceh

Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa berkunjung ke sejumlah destinasi wisata di Aceh

JAKARTA, Cobisnis.com – Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa berkunjung ke sejumlah destinasi wisata di Aceh, mencakup Desa Wisata Nusa di Kabupaten Aceh Besar serta Museum Kapal PLTD Apung dan Museum Tsunami Aceh di Kota Banda Aceh.

Peninjauan tersebut dilakukan untuk melihat langsung pengembangan pariwisata berbasis masyarakat serta potensi wisata sejarah dan edukasi kebencanaan.

Kunjungan ke destinasi tersebut menunjukkan kekuatan pariwisata Aceh yang tidak hanya bertumpu pada daya tarik destinasi, tetapi juga pada keterlibatan masyarakat, kekayaan budaya, sejarah, dan edukasi.

Wamenpar mengawali kunjungannya ke Desa Wisata Nusa atau Gampong Nusa, Kabupaten Aceh Besar. Desa yang dikelilingi perbukitan dan hamparan persawahan tersebut merupakan salah satu peraih 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021.

Masyarakat Gampong Nusa mengembangkan beragam pengalaman wisata yang melibatkan warga secara langsung, mulai dari kuliner tradisional, kriya, seni budaya, hingga homestay. Pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga karakter dan kearifan lokal sekaligus menciptakan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Dalam kunjungan tersebut, Wamenpar juga bertemu dengan komunitas asal Malaysia, Jelajah Bakti Terpuji (JEBAT), yang tengah berkunjung ke Gampong Nusa untuk mengenal atraksi dan budaya masyarakat setempat, termasuk tari Ratoh Jaroe.

Wamenpar turut melihat secara langsung proses pengolahan kuliner tradisional Aceh, Sie Itek atau bebek kari khas Aceh, yang menggunakan beragam rempah dan dimasak secara tradisional menggunakan beulangong atau kuali tanah liat.

Wamenpar kemudian berdialog dengan pengelola desa dan mengapresiasi ketangguhan serta keterlibatan masyarakat dalam membangun dan melestarikan potensi desa, mulai dari kuliner tradisional, kriya, hingga pengelolaan homestay.

Pengelola Desa Wisata Nusa, Nur, mengatakan masyarakat terus menggali dan mengembangkan potensi lokal menjadi berbagai atraksi wisata yang dapat menarik kunjungan sekaligus memberikan manfaat ekonomi secara langsung kepada warga.

“Desa Wisata Nusa adalah contoh konkret bagaimana daya tahan dan keterlibatan masyarakat lokal mampu menciptakan destinasi berkualitas dan berkelanjutan tanpa kehilangan identitas budayanya,” ujar Wamenpar Ni Luh Puspa melalui siaran pers yang diterima cobisnis.

Menurut Wamenpar, keterlibatan masyarakat menjadi salah satu fondasi penting dalam pengembangan destinasi karena manfaat pariwisata diharapkan tidak berhenti pada peningkatan jumlah kunjungan, tetapi juga mampu memperkuat perekonomian masyarakat sekaligus menjaga budaya dan kearifan lokal.

Dari Gampong Nusa, Wamenpar melanjutkan kunjungan ke dua destinasi sejarah dan edukasi kebencanaan di Kota Banda Aceh, yakni Museum Kapal PLTD Apung dan Museum Tsunami Aceh.

Di Museum Kapal PLTD Apung, Wamenpar melihat jejak sejarah bencana tsunami 2004 sekaligus ketangguhan masyarakat Aceh dalam bangkit dari salah satu bencana terbesar yang pernah melanda Indonesia.

Kapal PLTD Apung menjadi salah satu saksi peristiwa tsunami Aceh 2004. Sebelum tsunami terjadi, kapal tersebut berada di Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh.

Gelombang tsunami setinggi sekitar sembilan meter kemudian menyeret kapal sepanjang 63 meter dengan berat sekitar 2.600 ton tersebut hingga sekitar lima kilometer ke daratan. Kapal yang kini berada di tengah permukiman tersebut kemudian dikembangkan menjadi museum sekaligus ruang pembelajaran mengenai bencana tsunami.

Kunjungan dilanjutkan ke Museum Tsunami Aceh untuk meninjau fasilitas pelayanan wisatawan serta pengelolaan museum sebagai pusat edukasi kebencanaan.

Di Museum Tsunami Aceh, pengunjung diajak memahami peristiwa tsunami melalui sejumlah ruang yang dirancang untuk menghadirkan pengalaman reflektif sekaligus edukatif.

Rangkaian tersebut antara lain “space of fear” atau lorong tsunami yang menggambarkan suasana ketika tsunami datang serta “space of sorrow” atau sumur doa yang memuat sekitar 3.600 nama korban pada dindingnya. Pancaran cahaya pada bagian atas ruang menjadi simbol hubungan spiritual dan doa kepada Tuhan.

Museum juga memiliki Jembatan Perdamaian yang dihiasi bendera berbagai negara yang memberikan bantuan kepada Aceh setelah tsunami sebagai simbol solidaritas, kebangkitan, dan perdamaian.

Selain itu, terdapat “space of memory” atau ruang kenangan yang menyimpan dokumentasi foto serta monitor interaktif yang menyajikan informasi ilmiah mengenai bencana tsunami.

“Wisata berbasis edukasi di Museum Kapal PLTD Apung dan Museum Tsunami Aceh ini begitu penting sebagai ruang untuk melakukan kontemplasi sekaligus membangun pemahaman pengunjung mengenai peristiwa bencana alam dan langkah-langkah mitigasinya,” ungkap Wamenpar.

Wamenpar menilai kekuatan sejarah tersebut dapat menjadi bagian penting dalam pengembangan pariwisata Aceh. Destinasi tidak hanya menjadi tempat yang dikunjungi wisatawan, tetapi juga ruang pembelajaran mengenai kebencanaan, ketangguhan masyarakat, solidaritas, dan proses kebangkitan Aceh.

Wamenpar menyampaikan dukungan Kementerian Pariwisata terhadap pengembangan pariwisata di Provinsi Aceh melalui penguatan kolaborasi dengan pemerintah daerah, masyarakat, pengelola destinasi, dan berbagai pemangku kepentingan.

“Setelah berkeliling ke tiga destinasi dan melihat langsung potensinya, saya melihat pariwisata Aceh memiliki kekuatan yang sangat besar. Dengan semangat kolaborasi bersama berbagai pihak, kita berharap dapat meningkatkan kunjungan wisatawan, mengembangkan pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan, sekaligus menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat,” tukasnya.

Download WordPress Themes Free
Premium WordPress Themes Download
Download Premium WordPress Themes Free
Download WordPress Themes Free
udemy free download
download redmi firmware
Free Download WordPress Themes
udemy paid course free download
Tags: AcehDesa Wisata NusaMusem Kapal PLTD ApungMuseum TsunamiNi Luh PuspawamenparWisata Aceh

Related Posts

Sektor Pariwisata Indonesia Raih Pertumbuhan yang Positif Hingga Juli 2026

Sektor Pariwisata Indonesia Raih Pertumbuhan yang Positif Hingga Juli 2026

by Chodijah Febriani
September 11, 2026
0

JAKARTA, Cobisnis.com - Tercatat hingga Juli 2026, Sektor pariwisata Indonesia mengalami pertumbuhan positif dan daya tahan yang kuat di berbagai...

Menpar:  Sektor Pariwisata Semester I 2026 Tumbuh Positif

Menpar: Sektor Pariwisata Semester I 2026 Tumbuh Positif

by Chodijah Febriani
August 9, 2026
0

JAKARTA, Cobisnis.com - Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengungkapkan sektor pariwisata Indonesia sepanjang Semester I 2026 mencatatkan pertumbuhan yang positif,...

INSA Yacht Festival 2026, Perkuat Posisi Indonesia jadi Wisata Bahari Kelas Dunia

INSA Yacht Festival 2026, Perkuat Posisi Indonesia jadi Wisata Bahari Kelas Dunia

by Chodijah Febriani
August 9, 2026
0

JAKARTA, Cobisnis.comu - INSA Yacht Festival (IYF) 2026, event dua tahunan ke-3 yang diselenggarakan Indonesian National Shipowners’ Association (INSA) ini...

Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa

Wamenpar Sebut Perempuan Punya Peran dalam Perkuat Daya Saing Pariwisata Indonesia

by Chodijah Febriani
July 28, 2026
0

JAKARTA, Cobisnis.com - Saat membuka acara Women's Leadership Forum 2026, Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa mengatakan perempuan merupakan tulang...

Keunikan Tarian Saman dan Ratoh Jaroe dari Aceh yang Mendunia

Keunikan Tarian Saman dan Ratoh Jaroe dari Aceh yang Mendunia

by Desti Dwi Natasya
June 26, 2026
0

JAKARTA, Cobisnis.com – Tarian Saman dan Ratoh Jaroe adalah dua tarian tradisional asal Aceh yang dikenal karena kekompakan, kecepatan, dan...

Load More
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Adythia Pratam Bongkar Alasan Banyak Orang Sulit Dapat Kerja

Adythia Pratam Bongkar Alasan Banyak Orang Sulit Dapat Kerja

September 9, 2026
Generasi Muda Makin Terkoneksi, Tapi Justru Makin Terputus

Generasi Muda Makin Terkoneksi, Tapi Justru Makin Terputus

September 10, 2026
Feri Irwandi Ungkap Alasan Buka Patungan untuk Hutan di Kalimantan

Feri Irwandi Ungkap Alasan Buka Patungan untuk Hutan di Kalimantan

September 13, 2026
Menurut Ferry Irwandi, Ekonomi Berawal dari Pilihan Manusia

Menurut Ferry Irwandi, Ekonomi Berawal dari Pilihan Manusia

September 8, 2026
Dr Ryan Keswani Ingatkan Pentingnya Menjaga Otak Sejak Usia Muda

Dr Ryan Keswani Ingatkan Pentingnya Menjaga Otak Sejak Usia Muda

September 15, 2026
Dr. Andreas: Topeng Bukan Kepalsuan, Tapi Peran yang Kita Mainkan

Dr. Andreas: Topeng Bukan Kepalsuan, Tapi Peran yang Kita Mainkan

September 15, 2026
Pencipta Siri Kenang Visi Awal Asisten Digital Sebelum Diakuisisi Apple

Pencipta Siri Kenang Visi Awal Asisten Digital Sebelum Diakuisisi Apple

September 15, 2026
AS dan China Tampilkan Visi Berbeda soal Pengembangan Kecerdasan Buatan pada 2026

Atlet Perempuan Kritik Kampanye Iklan Novig yang Menampilkan Sydney Sweeney

September 15, 2026
">
  • Redaksi
  • Profil
  • Media Kit
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Cyber
  • Kontak

© Copyright 2025 Cobinis.com - All Right Reserved

No Result
View All Result
  • Home
  • Ekonomi & Bisnis
  • Nasional
  • Industri
  • Lifestyle
  • Humaniora
  • Kesehatan & Olahraga
  • Startup Center
  • Foto
  • Youtube

© Copyright 2025 Cobinis.com - All Right Reserved