Lantas, apa yang terjadi jika seseorang benar-benar berhenti mengonsumsi gula tambahan?
Dalam video di kanal YouTube Kok Bisa?, dibahas perubahan yang mungkin terjadi pada tubuh ketika seseorang mengurangi atau menghentikan konsumsi gula tambahan, mulai dari munculnya rasa ngidam hingga perubahan pada lidah dan kondisi tubuh.
“Di awal kita mungkin masih bisa tahan. Baru di hari kedua lah kita mulai ngidam. Rasa ngidamnya bakal memuncak sampai sekitar hari kelima,” dikutip dari kanal YouTube Kok Bisa?, Rabu (2/9/2026).
Pada fase awal, seseorang dapat mengalami keinginan kuat untuk mengonsumsi makanan atau minuman manis. Dalam video tersebut, rasa ngidam juga disebut dapat disertai pusing, gelisah, dan sakit kepala.
Hal tersebut dikaitkan dengan bagaimana otak merespons rasa manis. Semakin sering mendapatkan gula, tubuh disebut dapat terbiasa dengan asupan tersebut.
Meski demikian, anggapan bahwa gula secara langsung menyebabkan kecanduan seperti narkoba masih menjadi perdebatan di kalangan ilmuwan.
Jika seseorang mampu melewati fase awal tersebut, perubahan mulai dapat dirasakan setelah sekitar 10 hari.
Video tersebut menyebut bahwa pengurangan gula dapat membantu menurunkan gula darah dan lemak, serta membuat hormon lebih stabil. Lidah juga disebut dapat menjadi lebih sensitif terhadap rasa manis.
Makanan yang sebelumnya terasa biasa saja bahkan dapat terasa lebih manis karena indra pengecap mulai beradaptasi dengan rendahnya asupan gula tambahan.
Pengurangan gula juga dikaitkan dengan kondisi kulit. Bagi sebagian orang, mengurangi konsumsi gula disebut dapat membantu mengurangi peradangan yang berhubungan dengan munculnya jerawat.
Perubahan tersebut kemudian dapat berlanjut jika kebiasaan mengurangi gula dipertahankan.
“Kalau kita terus lanjut sampai minggu keenam, kita udah enggak bakal ngerasain yang namanya ngidam-ngidam lagi,” dikutip dari kanal YouTube Kok Bisa?.
Pada fase tersebut, lidah disebut semakin terbiasa dengan rasa yang tidak terlalu manis. Makanan atau minuman yang sebelumnya menggugah selera karena rasa manis bahkan dapat terasa terlalu manis.
Video tersebut juga membahas sejumlah perubahan lain yang mungkin dirasakan, seperti tidur yang lebih baik, penurunan berat badan, serta pencernaan yang lebih sehat.
Dalam jangka panjang, mengurangi konsumsi gula tambahan juga dapat membantu menurunkan risiko sejumlah penyakit yang berkaitan dengan pola makan tinggi gula.
Selain gula, video tersebut turut menyoroti penggunaan pemanis buatan yang banyak ditemukan dalam produk rendah atau tanpa gula.
Pemanis buatan dapat memiliki tingkat kemanisan jauh lebih tinggi dibandingkan gula biasa. Karena itu, muncul kekhawatiran bahwa rasa manis yang sangat kuat dapat membuat seseorang semakin terbiasa mencari makanan atau minuman manis.
Meski demikian, hubungan antara pemanis buatan dan berbagai penyakit masih terus diteliti. Adanya hubungan dalam penelitian tidak selalu berarti pemanis tersebut menjadi penyebab langsung suatu penyakit.
Video Kok Bisa? juga menyinggung kondisi masyarakat lokal di Hawaii yang mengalami tingginya angka obesitas serta perubahan pola makan setelah wilayah tersebut berada di bawah pengaruh Amerika Serikat.
Perubahan pola makan dari makanan lokal menuju makanan impor yang sebagian mengandung gula dan garam tinggi disebut menjadi salah satu konteks yang perlu diperhatikan ketika membahas pola konsumsi masyarakat.
Pada akhirnya, menjaga kesehatan tidak selalu berarti harus menghilangkan satu jenis makanan secara total.
“Karena sebenarnya kunci sehat enggak selalu benar-benar harus nyetop makan sesuatu, tapi dengan enggak makan berlebihan,” dikutip dari kanal YouTube Kok Bisa?.
Video tersebut juga menyinggung rencana pemerintah untuk menerapkan skor gula pada minuman kemasan sebagai salah satu upaya agar masyarakat lebih mudah mengetahui kandungan gula dalam produk yang dikonsumsi.
Dengan memahami kandungan makanan dan minuman serta membatasi konsumsi gula tambahan secara berlebihan, masyarakat diharapkan dapat lebih bijak dalam menjaga pola makan sehari-hari.