JAKARTA, Cobisnis.com – Adaeze Onejeme menemukan pemandangan yang tidak biasa saat mengunjungi pasar malam di Hollywood, Los Angeles, bersama saudarinya pada akhir Agustus.
Perempuan berusia 28 tahun itu melihat banyak stan makanan menggunakan gambar menu yang sekilas tampak nyata. Namun, setelah diamati lebih dekat, gambar-gambar tersebut terlihat memiliki tampilan yang terlalu sempurna.
Menurut Onejeme, makanan dalam gambar itu tampak berbeda dari makanan yang biasa dijual di lokasi serupa. “Saya berpikir, itu tidak terlihat seperti nugget ayam. Itu tidak terlihat seperti makanan yang biasa kami makan,” ujarnya.
Onejeme kemudian menyebut fenomena tersebut sebagai “epidemi brosur AI”. Setelah itu, ia merekam sejumlah video stan makanan yang menggunakan gambar buatan AI.
Ia membagikan video tersebut melalui TikTok. Sementara itu, saat memilih makanan, Onejeme memutuskan membeli kentang goreng dan limun dari stan yang menggunakan foto makanan asli pada menunya.
Menurut Onejeme, banyak penjual sebelumnya hanya menggunakan foto langsung dari makanan yang mereka jual. Namun, ia menilai gambar buatan AI menghadirkan tampilan yang berbeda. Ia menyoroti warna, tingkat saturasi, dan tekstur yang terlihat tidak alami.
“Rasanya Anda tidak tahu seperti apa makanan yang akan didapat ketika pesanan datang,” katanya dalam sebuah wawancara. Selain itu, Onejeme mempertanyakan apakah penggunaan gambar AI pada menu dapat dianggap sebagai bentuk iklan yang menyesatkan.
Fenomena penggunaan gambar AI pada menu makanan belakangan semakin banyak menarik perhatian di media sosial. Karena itu, perdebatan mengenai keaslian visual makanan dan ekspektasi konsumen kembali mencuat.













