JAKARTA, Cobisnis.com – Shein bersiap menjalani debut pasar yang telah lama dinantikan melalui penawaran saham perdana atau IPO di Hong Kong. Namun, perusahaan fesyen cepat tersebut menghadapi kondisi yang jauh berbeda dibanding beberapa tahun lalu.
Shein sebelumnya dikenal sebagai salah satu pengubah permainan di industri fesyen global. Perusahaan itu mampu menghadirkan tren terbaru dalam hitungan hari dengan harga yang sangat terjangkau.
Strategi tersebut mendorong pertumbuhan pesat perusahaan. Selain itu, Shein berhasil menyaingi sejumlah raksasa fesyen seperti Zara dan H&M.
Pada puncaknya pada 2022, valuasi Shein mencapai sekitar US$98,2 miliar. Saat itu, perusahaan bahkan dipandang sebagai salah satu kandidat IPO terbesar di sektor ritel global.
Namun, rencana melantai di bursa tidak berjalan mulus. Shein menghadapi berbagai hambatan setelah upaya pencatatan saham di New York dan London gagal terwujud.
Kini, perusahaan yang didirikan di China itu memilih Hong Kong sebagai lokasi pencatatan saham. Meski begitu, valuasi yang diperoleh jauh lebih rendah dibanding beberapa tahun lalu.
Dalam IPO yang berlangsung pekan lalu, Shein berupaya menghimpun dana sekitar US$1,7 miliar. Karena itu, valuasi perusahaan kini berada di kisaran US$26 miliar.
Angka tersebut menunjukkan penurunan lebih dari 70 persen dibanding valuasi puncaknya pada 2022. Penurunan tajam itu mencerminkan perubahan pandangan investor terhadap prospek bisnis perusahaan. Sementara itu, persaingan di sektor fesyen daring semakin ketat. Sejumlah pemain baru terus bermunculan dan menawarkan model bisnis serupa.
Selain itu, Shein juga menghadapi tekanan geopolitik di berbagai pasar utama. Perusahaan turut mendapat sorotan terkait isu keberlanjutan serta praktik ketenagakerjaan dalam rantai pasoknya.
Meski masih memiliki basis pelanggan yang besar, Shein kini harus meyakinkan investor bahwa model bisnisnya tetap mampu tumbuh dalam lingkungan yang semakin kompetitif.













