JAKARTA, Cobisnis – Mimpi Fara untuk membawa Gemala Craft ke pasar ekspor terdengar sederhana ketika diucapkan. Kenyataannya, mimpi itu membawa persoalan yang tidak sederhana.
Semakin besar pasar yang ingin dituju, semakin banyak produk yang harus dibuat. Namun bagi sebuah usaha kerajinan, menambah jumlah produksi berarti juga mencari lebih banyak tangan yang mampu bekerja dengan keterampilan dan ketelitian yang sama.
Di situlah Fara, pemilik Gemala Craft, berada hari ini. UMKM yang dirintisnya sejak 2012 telah melewati pandemi Covid-19, perubahan cara produksi, hingga berbagai upaya untuk memperkuat bisnis. Kini, ketika peluang pasar semakin terbuka, tantangan berikutnya justru berada pada orang-orang yang membuat setiap produknya.
“Kalau kerajinan kan harus sama. Hasil tangan yang kita buat dengan saya atau dengan orang lain itu harus balance,” ujar Fara dalam wawancara, Sabtu (29/8/2026).
Kerajinan tangan memang tidak hanya soal barang yang selesai dibuat. Ada keterampilan yang dipelajari, ketelitian yang dibentuk dari pengalaman, dan waktu yang dibutuhkan agar seseorang mampu menghasilkan produk dengan kualitas yang konsisten.
Namun, persoalan tenaga kerja itu baru terlihat setelah Gemala Craft melewati perjalanan panjang untuk bisa sampai di titik sekarang.
Dari Bertahan, Menjadi Membuka Jalan bagi Perempuan Lain
Fara merintis Gemala Craft pada 2012. Pada awalnya, ia membuat berbagai kerajinan dari bahan siap pakai seperti mutiara, kawat, dan kain flanel. Bros dan gantungan kunci menjadi beberapa produk yang dibuatnya.
Kemudian pandemi Covid-19 datang dan mengubah keadaan.
Pesanan yang sebelumnya banyak berasal dari acara pernikahan dan kebutuhan souvenir berhenti. Ketika tidak ada lagi acara yang membutuhkan produk kerajinan, usaha Fara terkena imbasnya. Untuk tetap mendapatkan pemasukan, ia beralih menjual makanan ringan seperti popcorn.
Setahun setelah pandemi mulai mereda, pesanan kerajinan perlahan kembali datang. Fara pun tidak ingin sekadar kembali pada pola lama. Ia mulai mencari cara untuk membuat kerajinan dengan biaya yang lebih rendah dan bahan yang mudah ditemukan.
“Saya kepengin buat usaha kerajinan itu yang minim budget, tapi hasil karyanya itu bisa dikenal masyarakat luar,” kata Fara.

Ia mencari berbagai referensi melalui YouTube hingga menemukan ide memanfaatkan gedebong pisang. Di lingkungan tempat tinggalnya, batang pisang yang buahnya sudah dipanen kerap dibiarkan begitu saja. Fara kemudian mencoba mengolahnya menjadi bahan kerajinan.

Kotak tisu menjadi produk pertamanya. Setelah dibuat dan dipasarkan melalui media sosial, produk tersebut mendapatkan respons dari konsumen. Dari sana, Fara mulai mengembangkan produk-produk lain menggunakan bahan yang sama.
Pilihan bahan tersebut juga membantu menekan biaya produksi. Fara tidak lagi harus membeli seluruh bahan utama karena gedebong pisang dapat diperoleh dari lingkungan sekitar. Untuk mengolahnya, ia membutuhkan material tambahan seperti tripleks dan lem, serta peralatan sederhana.
Dalam perkembangannya, Fara juga memasukkan unsur lokal Sumbawa ke dalam produk. Ia mengembangkan motif yang terinspirasi dari seni ukir khas daerah, termasuk Lonto Engal dan Kemangsa Tangi.
Namun, semakin berkembangnya produk berarti semakin banyak pula pekerjaan yang harus diselesaikan.
Ketika pesanan datang dalam jumlah lebih besar, Fara mulai melibatkan ibu-ibu rumah tangga di sekitar tempat tinggalnya. Mereka mendapat kesempatan untuk ikut mengerjakan pesanan, sekaligus belajar keterampilan yang dibutuhkan dalam proses produksi.
“Biasanya kalau ada orderan lebih, jadi bisa kita memberdayakan ibu-ibu yang ada di sekitar,” ujar Fara.
Bagi Fara, keterlibatan perempuan tersebut bukan hanya soal membagi pekerjaan. Ia menyebut ada ilmu dan rezeki yang turut dibagikan.
Di sinilah pertumbuhan Gemala Craft mulai memiliki dampak yang lebih luas. Sebuah pesanan yang masuk ke satu UMKM dapat menciptakan pekerjaan untuk orang lain. Dalam skala kecil, aktivitas produksi menjadi ruang bagi ibu-ibu rumah tangga untuk ikut memperoleh penghasilan.
Namun, kesempatan itu juga membawa persoalan lain ketika Gemala Craft mulai membidik pasar yang lebih besar.
Ketika Pesanan Bertambah, Tantangannya Ikut Berubah
Pertumbuhan bisnis membuat persaingan semakin terbuka. Melalui marketplace, Gemala Craft harus berhadapan dengan produk kerajinan dari berbagai daerah. Konsumen dapat membandingkan harga dan produk dengan lebih mudah, sementara pelaku usaha harus menemukan cara agar produk mereka tetap memiliki daya saing.
Bagi Fara, persoalan lain justru berada di dalam proses produksinya sendiri.
Kerajinan membutuhkan keterampilan yang tidak bisa langsung dikuasai oleh pekerja baru. Setiap produk harus memiliki kualitas yang relatif sama, meskipun dikerjakan oleh orang yang berbeda.
Karena itu, bertambahnya pesanan tidak otomatis berarti Gemala Craft dapat meningkatkan produksi dalam jumlah yang sama. Ada keterampilan yang harus dipelajari dan standar yang harus dipenuhi.
Persoalan tenaga kerja tersebut menjadi semakin penting karena Fara ingin membawa Gemala Craft menuju pasar ekspor.
Ia ingin memperkuat manajemen produksi dan pengelolaan usaha agar mampu memenuhi kebutuhan pasar yang lebih luas. Namun, salah satu tantangan yang masih dihadapi adalah mencari tenaga kerja yang memiliki keterampilan dan mampu menghasilkan kualitas yang konsisten.
Di titik ini, ambisi untuk tumbuh bertemu dengan kenyataan di lapangan.
Pasar bisa diperluas. Pesanan bisa bertambah. Peralatan produksi bisa ditingkatkan. Tetapi tetap ada satu hal yang tidak bisa diabaikan, yaitu orang-orang yang mengerjakan produknya.
Bagi sebuah usaha kerajinan, tangan manusia bukan sekadar bagian dari proses produksi. Keterampilan tangan justru menjadi bagian dari nilai produk itu sendiri.
AMMAN dan Fondasi untuk Melangkah Lebih Jauh
Dalam proses mengembangkan Gemala Craft, Fara mendapatkan dukungan dari AMMAN melalui program Balai Berdaya.
Pendampingan tersebut memberinya kesempatan untuk mempelajari hal-hal yang sebelumnya belum banyak ia dapatkan dalam menjalankan usaha. Salah satunya adalah Business Model Canvas dan perhitungan harga pokok produksi atau HPP.
Bagi Fara, pengetahuan tersebut menjadi fondasi penting dalam membangun bisnis.
“Dari situ saya banyak sekali mendapat ilmu. Kita diajarkan mengenai bisnis model kanvas, kemudian perhitungan HPP. Pokoknya segala macamnya itu ibaratnya kalau saya bilang, itu dasarnya kita membangun sebuah fondasi,” tutur Fara.
Selain pelatihan, Gemala Craft juga mendapatkan bantuan mesin scroll. Mesin tersebut digunakan dalam proses pembuatan ukiran pada produk kerajinan.
Menurut Fara, mesin itu membantu mempercepat pengerjaan dan membuat hasil ukiran menjadi lebih baik. Dampaknya juga ia rasakan pada perkembangan omzet dan jumlah pesanan.
“Dari segi waktu cepat, kemudian hasilnya juga bagus. Dampak yang saya rasakan lebih ke omzet, omzetnya lebih bertambah, kemudian orderan juga bertambah,” katanya.
Dukungan tersebut membuat Fara tidak hanya memiliki tambahan peralatan untuk produksi, tetapi juga pengetahuan untuk melihat usahanya dari sisi pengelolaan bisnis.
Di saat yang sama, perkembangan produksi menciptakan peluang yang lebih besar bagi perempuan di lingkungan sekitar untuk terlibat ketika pesanan meningkat.
Namun, dukungan terhadap kapasitas usaha tidak serta-merta menghapus seluruh persoalan.
Gemala Craft tetap membutuhkan tenaga kerja yang mampu menjaga kualitas produk. Bagi Fara, hal tersebut menjadi salah satu kunci jika usahanya benar-benar ingin berkembang menuju pasar ekspor.
Karena itu, tantangan Gemala Craft hari ini bukan lagi sekadar bagaimana membuat produk dan menjualnya.
Pertanyaannya menjadi lebih besar: bagaimana sebuah usaha kerajinan dapat tumbuh tanpa kehilangan keterampilan manusia yang membuat produknya bernilai?
Menuju Pasar Global, Tanpa Meninggalkan Tangan yang Membuatnya
Fara ingin Gemala Craft dikenal lebih luas. Ia menargetkan pasar ekspor dan ingin memperkuat manajemen produksi agar usahanya mampu memenuhi permintaan yang lebih besar.
Jika target itu tercapai, perjalanan produk Gemala Craft akan semakin jauh dari tempat ia dibuat.
Namun, ada perjalanan lain yang tidak kalah penting dan berlangsung lebih dekat dengan tempat usaha itu berdiri.
Perempuan-perempuan yang ikut mengerjakan pesanan harus terus mendapatkan keterampilan. Standar produksi harus dipertahankan. Dan pengetahuan yang selama ini dimiliki Fara perlu diteruskan kepada orang lain agar pertumbuhan usaha tidak bergantung pada satu orang saja.
Di satu sisi, Gemala Craft telah menunjukkan bagaimana sebuah usaha kecil dapat bangkit setelah terpukul pandemi. Di sisi lain, perjalanan menuju pasar yang lebih besar memperlihatkan bahwa pertumbuhan tidak selalu datang tanpa persoalan baru.
Fara pernah berada di titik ketika pesanan kerajinan berhenti dan ia harus mencari cara lain untuk bertahan. Kini, persoalannya berbeda. Ia justru harus mencari lebih banyak orang yang mampu membantunya memenuhi peluang yang datang.
Perubahan itu menunjukkan sesuatu yang sederhana: kesuksesan sebuah UMKM tidak hanya bisa dilihat dari seberapa banyak produk yang berhasil dijual.
Ada pula orang-orang yang mendapatkan kesempatan karena usaha tersebut tumbuh.
Ada keterampilan yang berpindah dari satu tangan ke tangan lain.
Dan ada sebuah usaha yang perlahan mencoba membawa cerita dari Sumbawa ke tempat yang lebih jauh.
Mimpi Fara tentang pasar global mungkin akan membawa Gemala Craft melampaui batas daerah. Tetapi sebelum produk itu sampai ke tangan konsumen di tempat yang jauh, ia tetap harus melewati tangan-tangan yang ada di Sumbawa.
Sebab mungkin, ukuran sebuah usaha yang benar-benar tumbuh bukan hanya seberapa jauh produknya bisa pergi, tetapi seberapa banyak orang yang bisa ikut melangkah bersamanya.













