JAKARTA, Cobisnis.com – Ada cara sederhana untuk melihat gambaran kebugaran tubuh tanpa menggunakan alat khusus. Tes tersebut dikenal sebagai sitting rising test atau SRT, dengan gerakan duduk dan berdiri dari lantai.
Tes ini dilakukan dengan duduk di lantai kemudian kembali berdiri tanpa menggunakan tangan atau lutut sebagai penopang. Gerakan tersebut dapat menggambarkan sejumlah kemampuan fisik, seperti kekuatan otot, keseimbangan, fleksibilitas, dan koordinasi.
Untuk melakukan SRT, tubuh berdiri di permukaan lantai yang datar dan tidak licin tanpa menggunakan alas kaki. Kedua tangan dapat diluruskan ke depan sebelum kaki disilangkan dan tubuh perlahan diturunkan hingga duduk.
Setelah duduk, peserta mencoba kembali berdiri dengan posisi kaki tetap menyilang. Gerakan dilakukan dengan bantuan sesedikit mungkin dan tanpa kehilangan keseimbangan.
Penilaian diberikan maksimal lima poin untuk gerakan duduk dan lima poin untuk gerakan berdiri. Satu poin dikurangi setiap kali menggunakan tangan, lengan bawah, atau lutut sebagai penopang, sedangkan setengah poin dikurangi jika kehilangan keseimbangan.
Dengan sistem tersebut, skor sempurna adalah 10. Semakin rendah skor yang diperoleh, semakin banyak bantuan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan gerakan.
SRT pertama kali dibuat pada akhir 1990 an oleh Claudio Gil Araújo, dokter dan dekan penelitian di Rio de Janeiro, Brasil. Tes ini dirancang untuk melihat kebugaran non aerobik yang tidak selalu tercermin dari kemampuan berlari atau bersepeda.
Tes tersebut membutuhkan beberapa kemampuan fisik sekaligus. Kekuatan kaki membantu tubuh bangkit dari posisi rendah, sementara fleksibilitas, keseimbangan, dan koordinasi diperlukan agar gerakan berlangsung stabil.
Penelitian terhadap lebih dari 4.000 orang berusia 46 hingga 75 tahun menemukan adanya hubungan antara skor SRT dan risiko kematian selama masa pemantauan sekitar 12 tahun. Peserta dengan skor 10 memiliki angka kematian sekitar 3,7 persen, sementara angka tersebut mencapai 42,1 persen pada kelompok dengan skor 4 atau lebih rendah.
Setelah memperhitungkan usia, jenis kelamin, indeks massa tubuh, dan kondisi kesehatan yang sudah ada, peserta dengan skor 0 hingga 4 tercatat memiliki risiko kematian akibat penyakit jantung sekitar enam kali lebih tinggi. Risiko kematian akibat penyebab alami juga sekitar empat kali lebih tinggi dibandingkan peserta dengan skor sempurna.
Meski demikian, skor SRT bukan berarti dapat digunakan untuk memastikan risiko kematian seseorang. Hasil penelitian menunjukkan hubungan antara skor tes dan risiko kesehatan, bukan bukti bahwa skor rendah secara langsung menyebabkan peningkatan risiko kematian.
Jika mendapatkan skor rendah, hasil tersebut dapat menjadi gambaran mengenai aspek kebugaran yang masih perlu dilatih. Latihan keseimbangan, yoga, peregangan, squat, latihan beban, atau gerakan duduk dan berdiri dari kursi dapat menjadi pilihan latihan yang lebih sederhana.











