JAKARTA, Cobisnis.com – Sebanyak 29 wilayah di Malaysia mencatat kualitas udara dalam kategori tidak sehat akibat kabut asap yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Indonesia.
Berdasarkan data Air Pollutant Index Management System pada Selasa (25/8) pukul 16.00 waktu setempat, seluruh wilayah tersebut mencatat indeks kualitas udara di atas 100. Kondisi ini masuk kategori tidak sehat bagi masyarakat.
Malaysia mengklasifikasikan indeks 0 sampai 50 sebagai sehat, 51 sampai 100 sebagai sedang, 101 sampai 200 sebagai tidak sehat, 201 sampai 300 sangat tidak sehat, dan lebih dari 300 sebagai berbahaya.
Serian menjadi wilayah dengan indeks tertinggi, yakni 183. Disusul Johan Setia dengan 172, Sri Aman 171, Shah Alam 160, Taiping 157, Tanjung Malim 157, Kuching 157, dan Tasek Ipoh 156.
Sejumlah wilayah lain juga mengalami kualitas udara tidak sehat. Minden mencatat indeks 155, Putrajaya 155, Nilai 155, Samarahan 155, Bukit Rimbai 154, Sarikei 154, Sungai Petani 153, serta Batu Muda di Kuala Lumpur 153.
Wilayah lainnya yang terdampak meliputi Seberang Perai, Seri Manjung, Kuala Selangor, Serembian, Alor Gajah, Segamat, Tangkak, Petaling Jaya, Banting, Batu Pahat, Klang, dan Balik Pulau.
Kementerian Kesehatan Malaysia menyarankan masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika indeks kualitas udara melewati angka 100. Warga juga diminta segera memeriksakan diri jika mengalami sesak napas atau batuk berkepanjangan.
Pemerintah Malaysia juga memperkuat pengawasan terhadap penyakit yang berkaitan dengan kabut asap. Kesiapan fasilitas kesehatan, pasokan obat, dan tenaga medis turut ditingkatkan untuk menghadapi dampaknya.
Di Indonesia, penanganan karhutla dilakukan dengan melibatkan pemadam kebakaran, badan penanggulangan bencana, militer, dan kepolisian. Pemerintah juga menjalankan operasi modifikasi cuaca untuk membantu meningkatkan potensi hujan di wilayah terdampak.
Malaysia memilih menggunakan jalur ASEAN untuk menangani persoalan kabut asap lintas batas. BNPB juga meminta negara tetangga tidak saling menyalahkan karena penanganan karhutla dan dampak asap membutuhkan kerja sama antarnegara.













