JAKARTA, Cobisnis.com – Traveling memang menyenangkan, tetapi perjalanan juga memiliki risiko keamanan digital yang sering diabaikan. Kebiasaan sederhana seperti asal membuka tautan atau menggunakan password yang sama bisa membuka celah pencurian identitas.
Pelaku penipuan biasanya memanfaatkan kondisi pelancong yang sedang terburu buru atau kurang waspada. Bahkan, satu kali klik pada tautan berbahaya dapat menjadi pintu masuk untuk mencuri data pribadi.
Kebiasaan pertama yang perlu dihindari adalah langsung membuka pesan dari maskapai atau hotel tanpa melakukan verifikasi. Pesan tersebut bisa saja merupakan phishing yang dibuat menyerupai komunikasi resmi.
Terry Brown, direktur senior bidang teknik di perusahaan perangkat lunak manajemen perhotelan Mews, mengatakan masalah sering muncul bukan karena serangan yang canggih. “Masalahnya sering muncul bukan karena serangan teknis yang canggih, tetapi karena kelengahan sesaat,” katanya, dilansir Travel + Leisure.
Pelancong juga sebaiknya tidak langsung mempercayai nomor customer service yang ditemukan melalui mesin pencarian. Nomor yang muncul di hasil pencarian belum tentu merupakan kontak resmi milik maskapai, hotel, atau platform perjalanan.
Cara yang lebih aman adalah menggunakan nomor yang tercantum dalam email konfirmasi, aplikasi resmi, atau situs terverifikasi. Langkah tersebut dapat mengurangi risiko penipuan dan pencurian data pribadi.
Kebiasaan lain yang berisiko adalah menggunakan password yang sama untuk banyak akun. Jika satu akun berhasil diretas, akun lain yang menggunakan password serupa juga berpotensi ikut diakses.
Penggunaan password unik untuk setiap akun dapat membantu membatasi dampak jika salah satu akun mengalami kebocoran. Verifikasi dua langkah atau 2FA dan password manager juga dapat digunakan untuk meningkatkan keamanan akun.
Penggunaan Wi Fi publik juga perlu diperhatikan selama perjalanan. Jaringan yang tidak aman dapat membuka peluang bagi pihak lain untuk mengakses email, dokumen, atau informasi login.
Jika harus menggunakan Wi Fi publik, hindari melakukan transaksi keuangan dan pastikan situs yang dibuka menggunakan koneksi terenkripsi. Penggunaan VPN juga disebut dapat menjadi lapisan perlindungan tambahan.
Dokumen penting juga sebaiknya tidak dibiarkan sembarangan di kamar hotel. Paspor, kartu identitas, laptop, dan dokumen lainnya dapat disimpan di brankas hotel jika tersedia.
Pelancong juga perlu berhati hati terhadap penelepon yang mengaku sebagai staf hotel. Jangan memberikan informasi akun atau data pribadi sebelum identitas penelepon benar benar diverifikasi.
Keamanan digital menjadi bagian penting dari persiapan perjalanan. Dengan menghindari lima kebiasaan tersebut, risiko pencurian identitas dapat ditekan sehingga perjalanan bisa berlangsung lebih aman.













