Gedung Putih membantah laporan tersebut dan menegaskan bahwa Amerika Serikat masih memiliki kemampuan pertahanan yang kuat. Pemerintah juga memastikan pasokan rudal baru akan terus diproduksi untuk memenuhi kebutuhan militer.
Meski demikian, sejumlah laporan menyebut persediaan beberapa rudal strategis mengalami penyusutan akibat tingginya intensitas operasi militer. Produksi rudal canggih seperti ATACMS, PrSM, dan rudal pencegat membutuhkan waktu bertahun-tahun sehingga tidak dapat digantikan secara instan.
Laporan Reuters menyebut Angkatan Darat AS telah menggunakan hampir seluruh stok dua rudal jarak jauh andalannya, yakni ATACMS dan Precision Strike Missile. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran mengenai kesiapan militer Amerika jika menghadapi konflik besar lainnya.
Menanggapi isu tersebut, Trump menegaskan bahwa pihak yang membocorkan informasi rahasia sedang diburu aparat. “Para ‘pembocor’ pernyataan yang bersifat pengkhianatan ini sedang diburu,” tulis Trump di Truth Social sebelum menambahkan bahwa pemerintah akan mengupayakan hukuman penjara jangka panjang.
Data Payne Institute menunjukkan Amerika Serikat, Israel, dan sekutunya telah menggunakan hampir 11.300 amunisi dalam 16 hari pertama perang yang dimulai pada 28 Februari. Para analis bahkan memperkirakan stok beberapa jenis rudal utama dapat habis dalam waktu sekitar satu bulan apabila tingkat penggunaan tetap tinggi.
Laporan Center for Strategic and International Studies (CSIS) juga memperkirakan jumlah rudal pencegat THAAD dan Patriot telah berkurang signifikan sejak konflik dimulai. Kedua sistem tersebut menjadi tulang punggung pertahanan udara Amerika dan sekutunya dalam menghadapi ancaman rudal balistik.
Tingginya kebutuhan rudal Patriot turut memengaruhi distribusi persenjataan ke sejumlah wilayah konflik, termasuk Ukraina. Dengan nilai satu paket sistem Patriot mencapai sekitar USD1 miliar, isu ketersediaan stok senjata diperkirakan akan terus menjadi perhatian selama konflik di Timur Tengah masih berlangsung.