JAKARTA, Cobisnis.com – Hasil riset terbaru mengungkap bahwa tidak semua orang yang terpapar faktor risiko penyebab kanker akan mengalami penyakit tersebut. Para peneliti menemukan adanya pengaruh besar faktor genetik yang dapat menjelaskan mengapa sebagian perokok tetap terhindar dari kanker paru-paru, sementara orang yang tidak pernah merokok juga masih memiliki kemungkinan terkena kanker.
Penelitian yang dimuat dalam jurnal ilmiah Nature menyebutkan bahwa perbedaan susunan genetik setiap individu dapat memengaruhi cara tubuh menghadapi paparan zat pemicu kanker. Faktor keturunan tersebut berperan dalam menentukan perubahan DNA, pertumbuhan tumor, hingga bagaimana kanker merespons terapi pengobatan.
Sam Godfrey, Kepala Informasi Penelitian Cancer Research UK (CRUK), mengatakan studi tersebut memberikan pemahaman baru mengenai bagaimana gen yang diwariskan seseorang dapat memengaruhi perkembangan kanker setelah sel mengalami kerusakan DNA.
Dalam penelitian ini, para ilmuwan melakukan percobaan terhadap empat jenis tikus yang memiliki variasi genetik berbeda. Seluruh tikus diberikan paparan zat karsinogen yang sama, yaitu dietilnitrosamin, senyawa yang diketahui dapat menyebabkan kerusakan DNA dan berkaitan dengan paparan asap tembakau maupun sejumlah makanan olahan.
Meski menerima paparan zat penyebab kanker dengan jumlah dan kondisi yang sama, masing-masing kelompok tikus menunjukkan pola perkembangan tumor yang berbeda. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa latar belakang genetik ikut menentukan jalur terbentuknya kanker.
Melalui analisis terhadap hampir 600 sampel tumor, para peneliti menemukan bahwa sel kanker dapat berkembang melalui beragam perubahan genetik. Temuan ini menunjukkan bahwa DNA yang diwariskan tidak hanya memengaruhi tingkat risiko seseorang terkena kanker, tetapi juga berperan dalam menentukan proses perjalanan penyakit setelah kanker mulai terbentuk.













