JAKARTA, Cobisnis.com – French Riviera atau Côte d’Azur kini identik dengan kapal pesiar mewah, festival film Cannes, dan pantai yang dipenuhi wisatawan. Namun, kawasan pesisir di selatan Prancis itu awalnya dikenal sebagai tempat pemulihan kesehatan bagi kalangan bangsawan Eropa.
Pada pertengahan abad ke-18, dokter dan pelancong mulai merekomendasikan iklim Mediterania yang hangat untuk membantu pemulihan penderita tuberkulosis dan gangguan saraf. Setelah kekalahan Napoleon pada 1815, kawasan ini semakin populer sebagai destinasi musim dingin bagi kalangan elite.
Ratu Victoria termasuk tokoh terkenal yang rutin menghabiskan musim dingin di Riviera. Kehadiran keluarga kerajaan dan bangsawan membuat Nice berkembang menjadi kota resor bergengsi.
Perubahan besar terjadi pada 1920-an ketika pasangan asal Amerika, Sara dan Gerald Murphy, mulai mempopulerkan Riviera sebagai tujuan liburan musim panas. Mereka mengundang banyak seniman dan penulis ternama untuk menikmati kawasan tersebut.
Tak lama kemudian, nama-nama besar seperti Pablo Picasso, Ernest Hemingway, hingga Coco Chanel ikut menjadikan Riviera sebagai tempat berkumpul. Citra kawasan itu pun bergeser menjadi simbol gaya hidup glamor.
Setelah Perang Dunia II, Festival Film Cannes turut memperkuat daya tarik Riviera di mata dunia. Kehadiran para bintang film membuat kawasan ini semakin identik dengan kemewahan dan budaya populer.
Meski dikenal sebagai destinasi elite, French Riviera tetap menyimpan jejak sejarah panjang. Kota-kota seperti Nice dan Cannes masih mempertahankan bangunan bersejarah yang menjadi saksi transformasi kawasan tersebut.
Kini, French Riviera menjadi salah satu destinasi wisata paling terkenal di dunia. Perjalanan dari kawasan penyembuhan menjadi pusat kemewahan menunjukkan bagaimana sejarah, budaya, dan pariwisata membentuk identitas wilayah tersebut.













