JAKARTA, Cobisnis.com – Impor minyak mentah China turun tajam pada Juni 2026. Penurunan ini menjadi yang terdalam dalam hampir satu dekade dan mencerminkan lemahnya permintaan energi di negara tersebut.
Data bea cukai China menunjukkan impor minyak mentah hanya mencapai sekitar 7,12 juta barel per hari. Angka itu turun 41,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Volume impor tersebut menjadi yang terendah sejak Oktober 2016. Kondisi ini sekaligus menandai perlambatan signifikan aktivitas perdagangan energi di negara dengan konsumsi minyak terbesar kedua di dunia.
Melemahnya permintaan domestik menjadi salah satu penyebab utama penurunan impor. Aktivitas industri dan konsumsi yang belum pulih penuh membuat kebutuhan minyak ikut menurun.
Di sisi lain, aktivitas kilang minyak China juga mengalami perlambatan. Tingkat operasional kilang berada di level terendah dalam hampir satu dekade sehingga kebutuhan bahan baku ikut berkurang.
Pemerintah China juga membatasi ekspor produk minyak olahan. Kebijakan tersebut dilakukan untuk menjaga ketersediaan pasokan energi di dalam negeri.
Langkah itu diambil di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, terutama yang berkaitan dengan konflik Iran. Situasi tersebut membuat pemerintah lebih berhati hati dalam mengelola pasokan energi nasional.
Data Vortexa juga menunjukkan impor minyak China dari kawasan Timur Tengah turun ke level terendah dalam 10 tahun terakhir. Penurunan itu memperlihatkan perubahan pola pasokan energi akibat dinamika geopolitik.
Perkembangan ini berpotensi memengaruhi pasar minyak global. Jika permintaan dari China terus melemah, tekanan terhadap harga minyak dunia dapat meningkat meski pasokan global masih dibayangi konflik.
Pelaku pasar kini menunggu arah kebijakan energi dan stimulus ekonomi China pada paruh kedua 2026. Langkah pemerintah dinilai akan menjadi penentu pemulihan permintaan minyak dalam beberapa bulan ke depan.













