JAKARTA, Cobisnis.com – Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa Barat pada akhir Juni 2026 menyebabkan lebih dari 10 ribu kematian berlebih dalam sepekan. Data tersebut berasal dari jaringan pemantauan kematian EuroMOMO yang didukung Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Pusat Pencegahan serta Pengendalian Penyakit Eropa (ECDC).
Angka kematian berlebih tercatat mencapai sekitar 10.650 kasus selama periode 22 hingga 28 Juni 2026. Para ilmuwan menyebut lonjakan tersebut sangat mungkin dipicu oleh suhu ekstrem yang melanda sebagian besar wilayah Eropa Barat.
Inggris menjadi negara dengan dampak paling besar, disusul Prancis, Spanyol, Jerman, dan sejumlah negara Eropa lainnya. Mayoritas korban merupakan kelompok lanjut usia yang paling rentan terhadap suhu tinggi.
Kepala dokter Statens Serum Institut Denmark, Lasse Vestergaard, mengatakan lonjakan kematian tersebut tergolong tidak biasa. “Terjadinya kelebihan angka kematian pada periode ini sangat tidak biasa. Skalanya sangat tinggi,” ujarnya.
WHO memperingatkan bahwa ancaman belum berakhir karena gelombang panas baru diperkirakan kembali melanda kawasan Mediterania. Suhu di beberapa wilayah Spanyol, Prancis selatan, dan Italia diperkirakan kembali melampaui 40 derajat Celsius.
Direktur Regional WHO untuk Eropa, Hans Henri P. Kluge, meminta pemerintah dan masyarakat meningkatkan kewaspadaan menghadapi cuaca ekstrem. Ia menilai gelombang panas berpotensi menjadi lebih mematikan jika langkah mitigasi tidak diperkuat.
Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) juga mencatat Juni 2026 sebagai bulan Juni terpanas yang pernah tercatat di Eropa Barat. Kondisi tersebut diperparah oleh suhu permukaan laut yang mencapai rekor tertinggi untuk periode tersebut.
Para pakar iklim menilai perubahan iklim membuat gelombang panas menjadi lebih sering, lebih lama, dan lebih intens dibandingkan sebelumnya. Mereka mengingatkan bahwa adaptasi terhadap cuaca ekstrem kini menjadi kebutuhan mendesak bagi negara-negara di Eropa.













