JAKARTA, Cobisnis.com – Harga perak dunia melesat ke level tertinggi dalam hampir dua pekan setelah pasar merespons data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang lebih lemah dari perkiraan. Kondisi tersebut memperkuat harapan investor bahwa The Fed akan menahan kenaikan suku bunga dalam waktu dekat.
Data Trading Economics menunjukkan harga perak menyentuh 62 dollar AS per ons pada perdagangan Jumat, 3 Juli 2026. Level tersebut menjadi yang tertinggi sejak 23 Juni 2026.
Secara mingguan, harga perak menguat hampir 6 persen. Per 3 Juli 2026, logam mulia itu diperdagangkan di level 62,40 dollar AS per ons atau naik 2,41 persen dibandingkan sehari sebelumnya. Secara tahunan, kenaikannya bahkan telah mencapai 68,92 persen.
Sentimen positif datang dari data nonfarm payrolls Amerika Serikat yang hanya mencatat penambahan 57.000 lapangan kerja sepanjang Juni 2026. Realisasi itu jauh di bawah ekspektasi pasar yang memperkirakan penambahan sekitar 110.000 pekerjaan.
Data tersebut mendorong pelaku pasar memangkas ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada September. Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga turun menjadi sekitar 50 persen dari sebelumnya 66 persen.
Harapan suku bunga yang lebih rendah membuat aset safe haven seperti perak dan emas kembali menjadi pilihan investor. Di sisi lain, dolar Amerika Serikat juga berada di jalur pelemahan mingguan terbesar sejak April sehingga memberikan dorongan tambahan bagi harga logam mulia.
Di tengah sentimen tersebut, JPMorgan tetap mempertahankan prospek positif terhadap harga perak dengan target rata rata 60 dollar AS hingga 65 dollar AS per ons. Sementara itu, proyeksi harga emas untuk 2026 dipangkas, meski bank investasi tersebut masih optimistis prospek jangka panjang logam mulia tetap ditopang pembelian bank sentral dan permintaan fisik yang kuat.













