JAKARTA, Cobisnis.com – Lonjakan impor Indonesia pada Mei 2026 didominasi oleh kebutuhan industri, terutama bahan baku dan barang modal. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai impor mencapai 24,81 miliar dollar AS atau naik 22,16 persen dibandingkan Mei tahun lalu.
Secara kumulatif, nilai impor sepanjang Januari hingga Mei 2026 mencapai 111,33 miliar dollar AS. Angka tersebut meningkat 15,24 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Impor bahan baku dan barang penolong mencatat kenaikan terbesar, yakni 10 miliar dollar AS atau 14,41 persen. Sementara itu, impor barang modal meningkat 17,53 persen dan impor barang konsumsi tumbuh 17,05 persen.
Kenaikan tersebut mencerminkan meningkatnya kebutuhan produksi dalam negeri. Hal itu juga terlihat dari melonjaknya impor mesin dan peralatan mekanis beserta komponennya yang naik sekitar 2,34 miliar dollar AS atau 16,92 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Di sisi lain, pertumbuhan impor lebih cepat dibandingkan ekspor. Nilai ekspor Indonesia selama Januari hingga Mei 2026 hanya naik 3,02 persen menjadi 115,36 miliar dollar AS. Bahkan pada Mei 2026, ekspor turun 5,73 persen secara tahunan.
Meski demikian, Indonesia masih mencatat surplus neraca perdagangan sebesar 4,03 miliar dollar AS. Surplus itu berasal dari perdagangan nonmigas yang membukukan surplus 16,31 miliar dollar AS, sedangkan sektor migas masih mencatat defisit 12,28 miliar dollar AS akibat tingginya impor energi.
China masih menjadi negara asal impor nonmigas terbesar Indonesia dengan nilai 39,27 miliar dollar AS atau sekitar 41,83 persen dari total impor nonmigas. Disusul Jepang dan Australia, ketiga negara tersebut masih menjadi pemasok utama bahan baku, mesin, dan peralatan yang dibutuhkan industri nasional.













