JAKARTA, Cobisnis.com — Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan yang bertujuan mengurangi ketegangan di kawasan Timur Tengah. Presiden AS Donald Trump dan Wakil Presiden JD Vance menandatangani kesepakatan tersebut secara virtual.
Sementara itu, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menandatangani dokumen atas nama pemerintah Iran. Kesepakatan itu mencakup penghentian blokade pelabuhan Iran oleh AS. Selain itu, kedua negara juga sepakat membuka kembali Selat Hormuz.
Kedua pihak juga akan memulai negosiasi program nuklir selama 60 hari. Karena itu, kesepakatan ini dianggap sebagai langkah penting untuk meredakan konflik.
Namun, rincian lengkap perjanjian tersebut belum dipublikasikan. Trump mengatakan dokumen resmi kemungkinan akan dirilis setelah upacara penandatanganan.
Di sisi lain, Washington dan Teheran masih memberikan penjelasan berbeda mengenai beberapa poin utama. Salah satunya adalah mekanisme operasional di Selat Hormuz.
Iran menyatakan akan tetap memungut biaya tertentu bagi pengguna jalur pelayaran tersebut. Namun, Trump menegaskan Selat Hormuz akan dibuka sepenuhnya tanpa pungutan mulai Jumat. Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memberikan tanggapan pertamanya terkait kesepakatan itu.
Netanyahu mengatakan dirinya dan Trump tidak selalu memiliki pandangan yang sama. Meski begitu, ia tidak menjelaskan lebih lanjut posisi pemerintah Israel terhadap perjanjian tersebut.
Di lapangan, ketegangan masih berlangsung. Israel dan kelompok Hezbollah yang didukung Iran terus saling menyerang di Lebanon selatan.
Kedua pihak mengklaim bertanggung jawab atas serangan yang terjadi pada Senin. Karena itu, kesepakatan antara AS dan Iran belum sepenuhnya meredakan konflik di kawasan.













