JAKARTA, Cobisnis.com — Presiden AS Donald Trump menyambut pembukaan kembali Selat Hormuz setelah tercapainya kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran. Namun, pelaku industri pelayaran global masih bersikap hati-hati. Mereka menilai berbagai ancaman keamanan belum sepenuhnya hilang dari kawasan tersebut.
Perusahaan pelayaran masih mengkhawatirkan ranjau laut, serangan drone, dan rudal. Karena itu, banyak operator kapal belum berani kembali beroperasi secara normal.
Selain ancaman fisik, kelelahan awak kapal juga menjadi perhatian. Berbulan-bulan ketidakpastian disebut memberi tekanan besar kepada para pelaut yang bertugas di wilayah tersebut.
Sementara itu, CEO Caravel Group, Angad Banga, mengatakan perusahaannya masih menahan sejumlah kapal di Teluk Persia. Perusahaan yang mengelola Fleet Management Ltd. itu memiliki sekitar selusin kapal yang saat ini masih berlabuh di kawasan tersebut.
Meski kapal siap berlayar, perusahaan memilih menunggu situasi lebih stabil. Selain itu, mereka tetap menerapkan langkah keamanan tambahan bagi awak kapal.
Banga mengatakan pihaknya membutuhkan setidaknya 30 hari pelayaran tanpa insiden sebelum kembali beroperasi secara penuh. Di sisi lain, perusahaan pelacakan kapal Kpler melaporkan belum ada pergerakan signifikan di kawasan tersebut.
Data Kpler menunjukkan sekitar 220 kapal tanker dan hampir 500 kapal lainnya masih tertahan di Teluk Persia. Karena itu, aktivitas perdagangan belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan cepat.
Ketua Mandarin Shipping, Tim Huxley, menilai industri pelayaran akan tetap berhati-hati setelah berbagai ketidakpastian yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir.
Menurutnya, pemulihan arus perdagangan tidak akan berlangsung instan. Selain itu, sejumlah infrastruktur di Timur Tengah mengalami kerusakan dan membutuhkan waktu untuk diperbaiki.













