JAKARTA, Cobisnis.com – Presiden AS Donald Trump menyatakan kesepakatan dengan Iran dijadwalkan ditandatangani pada Minggu. Trump mengatakan kesepakatan tersebut akan membuka kembali Selat Hormuz yang menjadi jalur penting perdagangan energi dunia.
Namun, Korps Garda Revolusi Islam Iran membantah rencana penandatanganan pada Minggu. Mereka mengkritik desakan Trump terkait jadwal tersebut.
Selain itu, pihak Iran menyebut kerangka kesepakatan masih belum difinalisasi. Sementara itu, sejumlah pejabat menyiapkan penandatanganan secara virtual.
Mereka memilih opsi tersebut karena pertemuan langsung menghadirkan tantangan logistik yang lebih besar. Selain itu, proses virtual dinilai dapat mengurangi risiko gangguan terhadap jalannya negosiasi.
Menurut sumber yang mengetahui pembahasan, nota kesepahaman akan membuka periode negosiasi baru selama 60 hari. Selama periode itu, kedua pihak akan membahas implementasi kerangka kesepakatan.
Mereka juga akan berupaya menyelesaikan sejumlah isu yang masih menjadi hambatan. Meski begitu, sejumlah perbedaan pandangan masih muncul antara Washington dan Teheran.
Pemerintah Iran menyampaikan penjelasan yang berbeda mengenai beberapa poin kesepakatan. Perbedaan tersebut mencakup masa depan program nuklir Teheran.
Selain itu, isu kelompok proksi regional dan dana Iran yang dibekukan juga masih menjadi pembahasan. Karena itu, proses negosiasi diperkirakan masih akan berlanjut sebelum kesepakatan akhir benar-benar tercapai.













