JAKARTA, Cobisnis.com – Ariana Grande mengecam penggunaan lagunya dalam video Gedung Putih yang mempromosikan kebijakan imigrasi pemerintahan Presiden Donald Trump.
Video berdurasi 14 detik itu diunggah ke TikTok pada Selasa dan menampilkan petugas, termasuk agen ICE, saat memborgol serta menangkap sejumlah orang.
Selain itu, video tersebut menggunakan lagu Bye yang dirilis Grande pada 2024. Unggahan itu menyertakan keterangan yang menyebut Trump telah menghadirkan perbatasan paling aman dalam sejarah Amerika Serikat.
Namun, suara lagu tersebut kemudian dihapus dari video. Pada Kamis, Grande menanggapi unggahan tersebut melalui kolom komentar TikTok.
Ia meminta Gedung Putih untuk tidak menggunakan musiknya dalam konten yang berkaitan dengan kebijakan tersebut. Selain itu, Grande menyebut kebijakan yang dipromosikan dalam video tersebut sebagai sesuatu yang tidak manusiawi.
Sementara itu, Gedung Putih membalas kritik tersebut melalui pernyataan resmi pada Jumat.
Juru bicara Gedung Putih Abigail Jackson mengatakan pihaknya menilai tindakan kriminal yang dilakukan imigran ilegal jauh lebih tidak manusiawi.
Sebelumnya, Grande juga pernah menunjukkan pandangan politiknya secara terbuka. Pada ajang Golden Globe Awards Januari lalu, ia mengenakan pin bertuliskan “ICE OUT”.
Di sisi lain, Grande bukan musisi pertama yang keberatan atas penggunaan musiknya oleh Trump atau pihak yang terkait dengannya. Sebelumnya, anggota ABBA, Adele, dan John Fogerty juga pernah meminta agar musik mereka tidak digunakan dalam kegiatan politik yang berkaitan dengan Trump.
Selain itu, penyanyi Olivia Rodrigo dilaporkan turut mengkritik penggunaan lagunya dalam video pemerintah yang mendorong imigran untuk meninggalkan Amerika Serikat secara sukarela.
Karena itu, kontroversi penggunaan musik populer dalam kampanye politik dan kebijakan pemerintah kembali menjadi sorotan publik.













