JAKARTA, Cobisnis.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menghadapi tekanan politik besar terkait kemungkinan kesepakatan baru dengan Iran. Kesepakatan itu muncul setelah perang berkepanjangan memicu krisis ekonomi dan energi global.
Trump beberapa kali mengklaim perjanjian dengan Iran sudah dekat. Namun, banyak pihak di Washington meragukan pernyataan tersebut. Sebagian politisi Republik dan Demokrat bahkan khawatir Trump akan menyetujui kesepakatan yang lemah.
Meski begitu, pembicaraan diplomatik disebut terus berjalan dalam beberapa pekan terakhir. Kesepakatan awal diperkirakan mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz dan pelonggaran blokade Amerika Serikat terhadap kapal Iran.
Langkah itu diharapkan membantu menurunkan tekanan ekonomi global akibat perang. Namun, sejumlah pihak menilai kompromi tersebut justru memberi keuntungan besar kepada Iran.
Mereka menilai Iran berhasil menggunakan perang sebagai alat tawar terhadap Washington. Selain itu, proposal kesepakatan dinilai jauh dari tuntutan awal Trump.
Pada Maret lalu, Trump sempat meminta “penyerahan tanpa syarat” dari Iran. Kini, pemerintahannya justru membuka peluang negosiasi lanjutan terkait program nuklir Iran.













