Penurunan paling tajam terjadi pada produksi emas dari bahan baku domestik murni yang hanya mencapai 81,06 ton atau merosot 7,1 persen secara tahunan. Kondisi ini dipicu penghentian sementara sejumlah fasilitas peleburan untuk perawatan rutin sehingga pasokan emas ikut tertekan.
Di sisi lain, permintaan emas masyarakat China justru meningkat. Total konsumsi emas sepanjang tiga bulan pertama 2026 naik 4,4 persen menjadi 303,29 ton. Ketimpangan antara pasokan dan permintaan ini dinilai dapat memicu tekanan baru terhadap harga emas global.
Fenomena menarik terlihat dari pola konsumsi masyarakat China yang kini lebih agresif membeli emas batangan dan koin. Permintaannya melonjak 46,4 persen menjadi 202,06 ton, menandakan minat investasi terhadap aset aman masih sangat tinggi di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Sebaliknya, konsumsi emas perhiasan turun tajam hingga 37,1 persen menjadi 84,62 ton. Pergeseran ini menunjukkan masyarakat kini lebih memilih emas sebagai instrumen lindung nilai dibanding sekadar kebutuhan gaya hidup.
China Gold Association menyebut penjualan emas batangan melalui perbankan meningkat signifikan dalam beberapa bulan terakhir. Perlambatan ekonomi global, konflik geopolitik, dan fluktuasi pasar keuangan membuat masyarakat cenderung memindahkan dana ke aset aman seperti emas.
Analis menilai jika produksi emas China belum pulih dalam waktu dekat, harga emas global berpotensi terus menguat. Dampaknya juga bisa terasa di Indonesia, termasuk terhadap harga Antam yang berpeluang ikut naik apabila tren penguatan emas dunia berlanjut sepanjang 2026.