JAKARTA, Cobisnis.com – UNESCO merilis Laporan Tren Global Pendidikan Tinggi perdana pada Selasa (12/5/2026). Laporan tersebut menyoroti peningkatan akses pendidikan tinggi sekaligus ketimpangan yang masih terjadi di berbagai negara.
Data dari 146 negara menunjukkan jumlah mahasiswa global meningkat signifikan dalam dua dekade terakhir. Pada tahun 2024, jumlah mahasiswa dunia mencapai 269 juta orang.
Angka tersebut meningkat tajam dibanding tahun 2000 yang berada di kisaran 100 juta mahasiswa. UNESCO menilai pertumbuhan itu menunjukkan akses pendidikan semakin meluas.
Meski demikian, ketimpangan pendidikan antarwilayah masih menjadi sorotan utama dalam laporan tersebut. Perbedaan akses pendidikan tinggi dinilai masih sangat besar.
Di Eropa Barat dan Amerika Utara, sekitar 80 persen anak muda telah mengenyam pendidikan tinggi. Sementara di Afrika sub-Sahara, angka pendaftaran mahasiswa hanya mencapai 9 persen.
UNESCO juga mencatat mobilitas internasional mahasiswa masih tergolong rendah. Hanya sekitar 3 persen mahasiswa dunia yang menempuh pendidikan di luar negeri.
Selain ketimpangan geografis, isu gender juga menjadi perhatian penting dalam laporan tersebut. Perempuan dinilai masih menghadapi hambatan pada jenjang pendidikan lebih tinggi.
UNESCO menyebut perempuan masih kurang terwakili pada tingkat doktoral. Selain itu, posisi kepemimpinan akademik juga masih didominasi laki-laki.
Laporan tersebut turut menyoroti kesulitan akses pendidikan bagi para pengungsi di negara-negara Global Selatan. Banyak pengungsi kesulitan melanjutkan pendidikan karena tidak memiliki dokumen akademik lengkap.
Sebagai solusi, UNESCO memperkenalkan Paspor Kualifikasi untuk membantu pengakuan kualifikasi akademik dan profesional pengungsi. UNESCO berharap kesetaraan akses pendidikan tinggi dapat semakin terbuka bagi semua kalangan.













