JAKARTA, Cobisnis.com – Harga emas global terkoreksi 2% pada Senin (4/5/2026) dipicu eskalasi konflik AS-Iran yang mendorong dolar AS menguat. Emas spot tertekan ke 4.523,23 dolar AS per ons, berjangka turun lebih dalam 2,4% ke 4.533,30 dolar AS.
Iran menyerang kapal di Selat Hormuz dan membakar pelabuhan minyak di UEA. Serangan itu jadi titik panas terbesar sejak gencatan senjata diumumkan empat pekan lalu.
Bart Melek dari TD Securities menilai kejadian ini hidupkan lagi bayangan inflasi dan sinyal suku bunga ketat. Keyakinan pasar bahwa situasi akan pulih belum terbentuk.
Minyak Brent langsung melonjak lebih dari 5% seiring serangan itu. Dolar yang menguat bikin emas semakin tidak terjangkau bagi investor luar AS.
Yield obligasi tenor 10 tahun bergerak naik 7 basis poin ke 4,448%. Tenor 30 tahun tembus 5,025%, level tertinggi sejak pertengahan Juli lalu.
Tenor 2 tahun ikut melonjak 8,1 basis poin ke 3,969%. Sinyal ini perkuat ekspektasi bahwa The Fed tidak akan buru-buru pangkas suku bunga.
Barclays dan sejumlah broker sudah coret proyeksi pelonggaran moneter untuk tahun ini. The Fed sendiri baru saja tahan suku bunga dalam voting paling terpecah sejak 1992.
Emas memang biasa jadi pelindung dari inflasi, tapi kurang diminati saat bunga tinggi. Analis sebut zona aman emas ada di kisaran 4.200 dolar AS jika tekanan berlanjut.
Perak anjlok 3,2%, platinum turun 1,7%, dan palladium melemah 2,9%. Seluruh segmen logam mulia bergerak seragam ke zona merah.
Di pasar domestik, emas Antam 1 gram terkoreksi Rp 1.000 ke Rp 2.795.000 pada Selasa (4/5/2026). Semua ukuran kompak turun sekitar 0,04 persen mengikuti tekanan pasar global.













