JAKARTA, Cobisnis.com – Inflasi di Amerika Serikat kembali meningkat dan mulai menekan daya beli masyarakat. Kondisi ini memicu kekhawatiran bahwa tekanan harga akan bertahan lebih lama.
Sejak 2021, inflasi terus menjadi masalah utama dalam ekonomi AS. Meski sempat melambat, harga belum kembali ke level sebelum pandemi.
Akibatnya, biaya hidup tetap menjadi isu utama bagi para pemilih. Banyak rumah tangga masih kesulitan menyesuaikan diri dengan harga tinggi.
Saat ini, lonjakan harga minyak akibat konflik Iran memperparah situasi. Namun, para ekonom menilai inflasi tidak akan kembali ke puncak 9,1% seperti 2022.
Meski begitu, kondisi ekonomi sekarang dinilai lebih berat bagi masyarakat. Berbeda dengan masa pandemi, banyak warga kini tidak memiliki bantalan keuangan yang kuat.
Selain itu, tingkat tabungan masyarakat menurun signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Banyak keluarga bahkan mulai bergantung pada utang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kenaikan harga juga terjadi bersamaan dengan tekanan lain di sektor ekonomi. Pasar perumahan stagnan dan layanan sosial mengalami pembatasan.
Di sisi lain, pembatasan imigrasi memperburuk kekurangan tenaga kerja. Hal ini berdampak pada sektor penting seperti kesehatan dan pengasuhan anak.
Kemudian, lonjakan harga bahan bakar semakin memperberat beban masyarakat. Kenaikan ini bahkan mulai menggerus manfaat dari pengembalian pajak tahunan.













