JAKARTA, Cobisnis.com – Kartu Pokémon kini memicu gelombang pencurian di berbagai negara. Karena nilainya terus naik, pelaku kejahatan mulai memburu kartu koleksi ini.
Pada 7 Maret lalu, dua pencuri membobol toko permainan di Graham. Mereka mengambil kartu senilai hampir 10 ribu dolar AS dalam waktu kurang dari dua menit.
Toko itu milik Andrew Engelbeck, pemilik Next Level the Gamers Den. Namun, pencurian serupa sudah beberapa kali terjadi di tokonya.
Engelbeck mengatakan kondisi mulai memburuk setelah pasar koleksi melonjak sejak pandemi. Karena itu, toko kartu kini menghadapi risiko keamanan lebih besar.
Kasus serupa juga muncul di Las Vegas, New York City, Vancouver, dan Nottingham. Total kerugian dari berbagai kasus itu sudah melampaui 500 ribu dolar AS.
Polisi di Abbotsford juga menyelidiki pencurian lain pada Maret. Dalam kasus itu, pelaku membawa kabur kartu Pokémon senilai 25 ribu dolar AS.
Menurut aparat, kartu Pokémon mudah dicuri karena ukurannya kecil. Namun, nilainya bisa mencapai ribuan dolar hanya dalam beberapa lembar.
Nick Jarman dari Certified Trading Card Association mengatakan kartu ini sangat likuid di pasar. Karena itu, pelaku bisa cepat menjual hasil curian.
Korban tidak hanya berasal dari toko koleksi. Pada Februari, kreator konten Pokémon bernama PokeDean juga kehilangan kartu mahal dari rumahnya.
Ia menemukan rumahnya berantakan setelah bepergian beberapa hari. Namun, pencuri hanya mengambil kartu Pokémon dan meninggalkan perangkat elektronik.
Lonjakan kasus ini muncul menjelang ulang tahun ke-30 Pokémon pada 2026. Franchise ini pertama kali hadir di Jepang pada 1996.
Satoshi Tajiri menciptakan Pokémon dari inspirasi hobi menangkap serangga saat kecil. Setelah itu, kartu Pokémon berkembang menjadi produk koleksi global.












