JAKARTA, Cobisnis.com – Harga emas dunia mengalami penurunan tajam di tengah memanasnya konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Logam mulia yang biasanya menjadi aset aman justru kehilangan daya tariknya dalam kondisi saat ini.
Sepanjang sepekan terakhir, harga emas tercatat turun sebesar 11 persen. Penurunan ini menjadi yang terbesar sejak tahun 1983, sekaligus membawa harga ke level terendah sejak era 1980-an.
Jika dihitung sejak awal konflik antara AS dan Iran, harga emas bahkan sudah merosot lebih dari 14 persen. Angka ini menunjukkan perubahan besar dalam pola investasi global di tengah ketidakpastian.
Secara umum, emas dikenal sebagai safe haven saat terjadi krisis. Investor biasanya memburu emas untuk melindungi nilai aset dari inflasi dan gejolak ekonomi.
Namun kondisi saat ini berbeda. Kenaikan harga energi akibat konflik justru mendorong bank sentral untuk mempertahankan atau menaikkan suku bunga.
Kebijakan suku bunga tinggi membuat instrumen seperti obligasi menjadi lebih menarik. Investor pun mulai mengalihkan dana dari emas ke aset yang memberikan imbal hasil lebih pasti.
Selain itu, penguatan dolar AS juga memberikan tekanan tambahan pada harga emas. Dalam beberapa pekan terakhir, indeks dolar tercatat naik hampir 2 persen.
Penguatan dolar membuat harga emas menjadi lebih mahal bagi investor di luar Amerika Serikat. Hal ini menurunkan permintaan global terhadap logam mulia tersebut.
The Fed sendiri diperkirakan akan menahan suku bunga sepanjang tahun ini. Berdasarkan data CME FedWatch, peluang penurunan suku bunga dinilai sangat kecil dalam waktu dekat.
Kondisi ini memperkuat ekspektasi bahwa imbal hasil obligasi akan tetap tinggi. Dampaknya, daya tarik emas sebagai aset tanpa bunga semakin melemah.
Sebelumnya, harga emas sempat melonjak hingga menyentuh US$ 5.000 per troy ons pada Januari 2025. Namun kini, harga telah turun di bawah US$ 4.500 per troy ons.
Penurunan ini juga dipengaruhi aksi ambil untung investor setelah dua tahun kenaikan tajam. Momentum euforia yang sempat mendorong harga kini mulai mereda.
Situasi ini menunjukkan bahwa dinamika geopolitik tidak selalu mendorong kenaikan emas. Faktor suku bunga dan nilai dolar tetap menjadi penentu utama arah pasar global.













