JAKARTA, Cobisnis.com – Pemerintah Amerika Serikat ternyata belum bisa sepenuhnya menghentikan penggunaan teknologi AI milik perusahaan Anthropic, meskipun Presiden Donald Trump telah melarang penggunaannya di lembaga pemerintahan.
Departemen Pertahanan AS atau Pentagon justru masih mengizinkan penggunaan alat AI dari Anthropic dalam kondisi tertentu yang dianggap penting bagi keamanan nasional.
Sebuah memo internal yang dilaporkan Reuters menyebutkan penggunaan AI tersebut masih diperbolehkan selama masa penghentian bertahap selama enam bulan.
Dalam dokumen tersebut dijelaskan bahwa penggunaan teknologi Anthropic hanya diperbolehkan pada situasi yang dianggap langka dan sangat penting bagi operasi keamanan nasional.
Selain itu, AI tersebut masih dapat digunakan jika tidak tersedia alternatif lain yang mampu menggantikan fungsinya secara memadai.
Namun setiap penggunaan harus melewati proses pengecualian khusus. Unit di lingkungan Pentagon yang ingin menggunakan teknologi tersebut wajib mengajukan rencana mitigasi risiko yang komprehensif.
Kebijakan ini menunjukkan bahwa pemerintah Amerika Serikat tidak mudah sepenuhnya melepaskan ketergantungan terhadap teknologi AI yang telah menjadi bagian dari sistem pertahanan mereka.
Sebelumnya, hubungan antara pemerintah AS dan Anthropic terbilang sangat erat. Perusahaan AI tersebut bahkan mendapatkan kontrak besar senilai US$200 miliar pada tahun 2025 untuk mendukung kebutuhan pertahanan militer.
Teknologi AI milik Anthropic digunakan untuk berbagai kebutuhan strategis, mulai dari analisis intelijen hingga simulasi pertempuran militer.
Namun hubungan keduanya mulai memanas ketika Anthropic menolak penggunaan teknologinya untuk mengembangkan senjata otonom serta melakukan pengawasan terhadap warga Amerika.
Penolakan tersebut membuat pemerintahan Trump geram dan menuduh perusahaan tersebut memiliki sikap politik yang dianggap berpotensi membahayakan keamanan nasional.
Pemerintah kemudian memasukkan Anthropic ke dalam daftar hitam rantai pasok teknologi serta melarang penggunaannya di berbagai lembaga pemerintahan.
Meski begitu, laporan media menyebut militer AS masih menggunakan AI Claude milik Anthropic dalam operasi militer, termasuk untuk analisis intelijen, identifikasi target, dan simulasi tempur.
Anthropic sendiri menolak keputusan tersebut dan membawa kasus tersebut ke jalur hukum. Proses sengketa antara perusahaan teknologi itu dan pemerintah AS masih terus berlangsung hingga saat ini.













