JAKARTA, Cobisnis.com – Nama Jiang Xueqin, seorang sejarawan sekaligus analis geopolitik yang berbasis di Beijing, kembali ramai dibicarakan di media sosial. Hal ini terjadi setelah sejumlah pandangannya mengenai dinamika politik global dinilai mulai selaras dengan perkembangan situasi dunia belakangan ini.
Salah satu analisisnya yang kembali menjadi sorotan adalah prediksi bahwa Amerika Serikat berpotensi menghadapi kesulitan besar, bahkan kemungkinan kekalahan, jika terlibat konflik militer langsung dengan Iran. Pandangan tersebut sebenarnya telah ia sampaikan sejak Mei 2024. Namun pada saat itu, banyak pihak menilai analisis tersebut terlalu spekulatif dan kurang realistis.
Seiring berjalannya waktu, beberapa prediksi Jiang dinilai mulai mendekati kenyataan. Salah satunya adalah kemenangan Donald Trump dalam pemilihan presiden Amerika Serikat serta meningkatnya ketegangan militer antara Washington dan Teheran. Situasi ini membuat analisis Jiang kembali menarik perhatian publik dan para pengamat geopolitik.
Faktor Geografi Dinilai Menguntungkan Iran
Dalam salah satu video yang diunggah melalui kanal YouTube pribadinya, Jiang menjelaskan bahwa kekuatan Iran tidak hanya bergantung pada kapasitas militernya, tetapi juga pada kondisi geografis negara tersebut. Wilayah Iran didominasi oleh pegunungan luas dengan kontur yang terjal, yang menurutnya menjadi tantangan besar bagi pasukan penyerang.
Ia menilai medan seperti itu berpotensi mengurangi keunggulan teknologi militer modern, termasuk sistem pengawasan satelit maupun serangan udara presisi. Di kawasan pegunungan tersebut, Iran dinilai dapat menyembunyikan berbagai fasilitas militer, seperti pangkalan drone, bunker pertahanan, hingga peluncur rudal yang sulit terdeteksi.
Apabila invasi darat benar-benar terjadi, Jiang memperkirakan pasukan Amerika tidak akan menghadapi pertempuran terbuka di wilayah datar. Sebaliknya, konflik kemungkinan berkembang menjadi perang berkepanjangan di kawasan pegunungan yang kompleks dan sulit dikendalikan.
Tantangan Logistik dan Peran Sekutu Regional
Selain faktor medan, Jiang juga menyoroti tantangan logistik yang berpotensi dihadapi militer Amerika Serikat. Jarak yang jauh dari wilayah Amerika menuju kawasan Timur Tengah dinilai membuat jalur pasokan militer menjadi panjang dan rentan terhadap gangguan.
Ia juga menyinggung keberadaan sejumlah kelompok yang memiliki kedekatan dengan Iran di kawasan tersebut, seperti Houthi movement, Hezbollah, dan Hamas. Kelompok-kelompok ini dinilai berpotensi memperluas skala konflik sekaligus memperpanjang durasinya.
Menurut Jiang, strategi yang mungkin digunakan Iran tidak harus berfokus pada kemenangan cepat di medan perang. Dengan memperpanjang konflik, tekanan ekonomi dan politik di dalam negeri Amerika Serikat dapat meningkat seiring berjalannya waktu.
Potensi Dampak terhadap Peta Kekuatan Dunia
Jiang juga menilai bahwa konflik besar antara Amerika Serikat dan Iran dapat membawa dampak signifikan terhadap tatanan global. Jika skenario kekalahan Amerika benar-benar terjadi, peristiwa tersebut berpotensi menjadi titik balik bagi dominasi kekuatan Barat dalam politik internasional.
Karena itu, analisis Jiang kini kembali diperhatikan oleh berbagai kalangan, khususnya para pengamat hubungan internasional. Pandangannya dinilai sebagai peringatan bahwa konflik di kawasan Timur Tengah berpotensi memicu perubahan besar dalam keseimbangan geopolitik dunia.













