JAKARTA, Cobisnis.com – Rumah mode mewah Gucci kembali melakukan rebranding ketiganya sejak kepergian Alessandro Michele pada 2022, kali ini di bawah arahan desainer Demna. Menjelang debut peragaan busananya, Demna memicu perbincangan dengan mengunggah gambar-gambar yang dihasilkan kecerdasan buatan (AI) di Instagram Gucci. Gambar tersebut berdampingan dengan foto ikonik seperti Sophia Loren dan patung David karya Michelangelo, sebelum akhirnya diberi label bahwa visual itu dibuat menggunakan AI. Langkah ini menuai pro dan kontra karena penggunaan AI dalam industri fesyen masih menjadi perdebatan.
Demna menilai AI hanyalah alat bantu kreatif untuk memvisualisasikan ide secara cepat dan relevan dengan era 2026. Ia bahkan menyebut teknologi seperti ChatGPT dapat memprediksi elemen desainnya, seperti jaket bomber oversized bermonogram. Namun di atas panggung runway, koleksi perdananya justru dinilai minim kejutan. Alih-alih eksplorasi visual yang eksentrik atau futuristik, yang tampil adalah siluet ketat dan desain sederhana yang terkesan datar.
Banyak pengamat menilai koleksi tersebut terasa terlalu komersial dan lebih berfungsi sebagai latar untuk menjual tas mahal dibandingkan menawarkan visi artistik baru. Di tengah penurunan penjualan yang membayangi induk perusahaan Kering, Gucci membutuhkan gebrakan besar. Pertanyaannya kini, apakah pendekatan AI dan estetika “mewah tapi sederhana” ala Demna mampu menghidupkan kembali daya pikat Gucci, atau justru membuat kemewahan terasa semakin kosong?













