JAKARTA, Cobisnis.com — Shaum atau puasa tidak hanya dimaknai sebagai menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga sebagai upaya mengendalikan seluruh perbuatan yang dapat mengurangi bahkan membatalkan pahala puasa.
Ibadah ini mengajarkan kedisiplinan spiritual, pengendalian diri, serta penguatan niat dalam menjalankan perintah Allah SWT.
Pembahasan mengenai pahala shaum tersebut disampaikan dalam sebuah kajian Ramadan yang mengangkat keutamaan puasa sebagai motivasi bagi umat Muslim agar menjalani ibadah dengan penuh kesadaran, keikhlasan, dan ketulusan hati.
Ustadz Syarif dalam kajian tersebut menjelaskan bahwa shaum harus diawali dengan niat yang tulus semata-mata karena Allah SWT, bukan karena dorongan manusia maupun kepentingan duniawi.
Menurutnya, ketulusan niat menjadi kunci utama agar ibadah puasa memiliki nilai spiritual yang tinggi di sisi Allah SWT.
Ia juga menambahkan bahwa orang yang menjalankan ibadah puasa akan memperoleh dua kebahagiaan. Pertama, kebahagiaan saat berbuka puasa, yaitu kenikmatan yang hanya dapat dirasakan oleh mereka yang menjalankan shaum dengan sungguh-sungguh. Kedua, kebahagiaan tertinggi ketika kelak bertemu Allah SWT di akhirat, yang menjadi cita-cita setiap penghuni surga.
Dengan memahami keutamaan tersebut, umat Muslim diharapkan dapat menjalankan puasa Ramadan dengan perasaan bahagia, penuh semangat, serta kesadaran bahwa shaum merupakan bentuk ikhtiar spiritual dalam meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.













