JAKARTA, Cobisnis.com – Tingkat pendidikan masih menjadi faktor penting yang menentukan peluang kerja dan besaran penghasilan pekerja di Indonesia. Semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin besar peluang memperoleh posisi dan pendapatan yang lebih baik.
Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Februari 2025 menunjukkan adanya korelasi positif antara jenjang pendidikan dan rata-rata gaji pekerja.
Secara nasional, rata-rata gaji buruh atau karyawan di Indonesia tercatat sebesar Rp 3,09 juta per bulan. Namun angka tersebut menunjukkan perbedaan signifikan jika dilihat berdasarkan pendidikan terakhir.
Pekerja dengan pendidikan SD ke bawah menerima rata-rata gaji Rp 2,07 juta per bulan. Kelompok ini menjadi penerima upah terendah dalam struktur tenaga kerja nasional.
Lulusan SMP memperoleh rata-rata gaji Rp 2,48 juta, sementara lulusan SMA berada di kisaran Rp 2,98 juta per bulan. Lulusan SMK memiliki rata-rata upah yang hampir sama, yakni Rp 2,97 juta.
Pekerja lulusan Diploma I hingga III memperoleh rata-rata gaji Rp 3,89 juta per bulan. Angka ini menunjukkan lonjakan pendapatan yang cukup signifikan dibanding lulusan pendidikan menengah.
Sementara itu, lulusan Diploma IV hingga S3 menerima rata-rata gaji tertinggi, yakni Rp 4,35 juta per bulan. Nilai ini hampir dua kali lipat dibanding pekerja berpendidikan SD ke bawah.
Meski pendidikan terbukti meningkatkan potensi penghasilan, struktur tenaga kerja Indonesia masih didominasi lulusan pendidikan rendah. Sekitar 52,31 juta pekerja atau 35,89 persen hanya berpendidikan SD ke bawah.
Lulusan SMP menyumbang sekitar 25,96 juta pekerja atau 17,81 persen dari total tenaga kerja. Kondisi ini menjadi tantangan besar dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan produktivitas nasional.
Selain pendidikan, faktor usia juga memengaruhi tingkat upah. Rata-rata gaji tertinggi tercatat pada kelompok usia 55–59 tahun sebesar Rp 3,60 juta per bulan.
Sebaliknya, kelompok usia 15–19 tahun menerima rata-rata upah Rp 1,92 juta per bulan. Perbedaan ini mencerminkan pengaruh pengalaman kerja, tanggung jawab, dan posisi dalam struktur pekerjaan.
Kesenjangan pendapatan berdasarkan pendidikan menunjukkan pentingnya investasi pada pendidikan dan pelatihan keterampilan. Upaya peningkatan kualitas SDM menjadi kunci untuk meningkatkan kesejahteraan pekerja dan daya saing ekonomi nasional.













