JAKARTA, Cobisnis.com – Federica Brignone menunjukkan bahwa terkadang kunci sukses di Olimpiade adalah bermain tanpa beban. Ditunjuk membawa bendera Italia pada upacara pembukaan Olimpiade Musim Dingin 2026, Brignone bahkan harus dibantu oleh atlet curling setinggi 6’6”, Amos Mosaner, karena kaki yang baru menjalani operasi masih terasa nyeri akibat kecelakaan parah pada April 2025.
Namun dari kondisi yang belum pulih sepenuhnya itu, Brignone justru mencetak prestasi gemilang. Atlet berusia 35 tahun tersebut meraih dua medali emas hanya dalam lima hari, memenangkan nomor giant slalom setelah sebelumnya finis teratas di Super-G. Ia mengaku saat Olimpiade dimulai kondisinya “bahkan belum 80 persen”.
Kemenangan Brignone menjadi simbol kebangkitan para atlet ski alpen putri di Olimpiade Musim Dingin 2026. Sehari sebelumnya, Breezy Johnson meraih emas downhill di lintasan Olimpia delle Tofane lokasi yang pernah membuatnya gagal di Olimpiade 2022. Sementara itu, legenda ski Amerika Lindsey Vonn harus kembali menjalani pemulihan panjang setelah mengalami cedera serius. Brignone sendiri mengalami kecelakaan hebat pada Kejuaraan Italia April 2025. Ia diterbangkan ke rumah sakit di Milan dan menjalani dua operasi serta 42 jahitan. Selama dua bulan ia tidak bisa berjalan, dan butuh lima bulan untuk berjalan normal. Total 300 hari ia absen dari kompetisi. Bahkan kini ia mengakui pemulihan total “tidak mungkin”.
Sebelum kecelakaan, Brignone memimpin klasemen keseluruhan Piala Dunia dengan 10 kemenangan di tiga disiplin berbeda: downhill, giant slalom, dan Super-G. Tiga pekan lalu, dalam lomba pertamanya setelah kembali, ia sudah merasa gembira hanya dengan finis keenam.
“Saya sudah merasa keajaiban bisa berada di sini dan membawa bendera,” ujarnya. “Saya datang hanya untuk menikmati dan melakukan yang terbaik. Mungkin itu sebabnya saya menang.”
Perjalanan Mikaela Shiffrin
Kisah berbeda dialami Mikaela Shiffrin. Hingga kini ia belum meraih medali di Olimpiade 2026 dan tercatat tanpa kemenangan dalam delapan nomor Olimpiade terakhirnya statistik yang terasa tidak adil bagi atlet dengan 108 kemenangan Piala Dunia.
Shiffrin juga melalui masa sulit. Ia mengalami luka tusuk serius saat lomba giant slalom di Vermont yang memerlukan operasi perut dan pemulihan mental panjang. Hampir dua tahun ia tidak naik podium di nomor tersebut hingga Januari tahun ini. Di Olimpiade kali ini, ia finis ke-11 di giant slalom nomor yang sebelumnya memberinya tekanan mental besar. Ia juga gagal membawa timnya meraih podium di nomor kombinasi. Meski begitu, ia menegaskan bangga dengan progres yang telah dicapai.
“Saya bangga dengan perkembangan ini. Mungkin belum cukup cepat untuk menang, tapi saya semakin dekat,” katanya.
Berbeda dengan Brignone yang datang tanpa ekspektasi dan tanpa tekanan, Shiffrin justru dikenal sangat analitis dan detail dalam pendekatannya. Di tengah tekanan Olimpiade, pertanyaan muncul apakah terlalu banyak berpikir justru menjadi hambatan.
Shiffrin masih memiliki satu peluang terakhir di nomor slalom disiplin yang paling ia kuasai dengan 71 kemenangan dari total 108 kemenangan Piala Dunia. Ia akan menjadi favorit dan diharapkan menang. Sementara itu, Brignone pulang dengan dua medali emas baru di lehernya. Mantranya sederhana: “Besok akan lebih baik.” Tanpa tekanan, ia justru meraih segalanya.












