• © Copyright 2025 Cobinis.com – All Right Reserved
Friday, September 18, 2026
Cobisnis
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Ekonomi Bisnis
  • Nasional
  • Lifestyle
  • Entertaiment
  • Humaniora
  • Sport
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Foto
  • Beranda
  • Ekonomi Bisnis
  • Nasional
  • Lifestyle
  • Entertaiment
  • Humaniora
  • Sport
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Foto
No Result
View All Result
Cobisnis
No Result
View All Result
Home News

10 Tahun Pasca Kebijakan Satu Anak, Upaya China Dorong Kelahiran Masih Belum Berhasil

Zahra Zahwa by Zahra Zahwa
January 1, 2026
in News
0
10 Tahun Pasca Kebijakan Satu Anak, Upaya China Dorong Kelahiran Masih Belum Berhasil

JAKARTA, Cobisnis.com – Sepuluh tahun setelah China secara resmi mengakhiri kebijakan kontroversial “satu anak,” upaya pemerintah untuk mendorong warganya memiliki lebih banyak anak masih belum mendapat respons positif. Banyak warga, khususnya generasi muda, menilai insentif yang diberikan belum sebanding dengan beban ekonomi dan sosial yang harus ditanggung dalam membesarkan anak.

Welkin Lei, pria berusia 30 tahun asal Beijing, kini tengah mempertimbangkan apakah ia dan istrinya akan memiliki anak kedua. Mereka sudah memiliki seorang anak berusia tiga tahun, yang perawatannya membutuhkan jasa penitipan anak berbayar. Di sisi lain, sebagai pasangan yang sama-sama anak tunggal, mereka juga harus memikirkan biaya dan waktu untuk merawat orang tua masing-masing yang mulai menua.

Dilema seperti ini menjadi cerminan tantangan besar yang dihadapi pemerintah China: bagaimana mendorong angka kelahiran setelah puluhan tahun pembatasan ketat yang mengubah struktur demografi. Lei menilai dukungan finansial pemerintah masih kurang. Menurutnya, jika negara benar-benar ingin mendorong warga punya lebih banyak anak, maka komitmen dan upaya yang diberikan harus jauh lebih besar.

Sejak kebijakan satu anak dicabut pada 1 Januari 2016, pemerintah China telah meluncurkan berbagai kebijakan pro-kelahiran. Namun, hasilnya belum signifikan. Populasi China justru menyusut selama tiga tahun hingga 2024. Meski terjadi sedikit peningkatan angka kelahiran pada 2024, jumlah tersebut masih kalah dibandingkan angka kematian dan diperkirakan tidak akan berkelanjutan.

Saat ini, penduduk berusia di atas 60 tahun mencakup lebih dari 20% dari total populasi sekitar 1,4 miliar jiwa. Proyeksi PBB menunjukkan angka ini berpotensi meningkat hingga setengah populasi pada tahun 2100. Kondisi ini menjadi ancaman serius bagi pertumbuhan ekonomi China dan ambisinya menyaingi Amerika Serikat, termasuk di bidang militer.

Presiden Xi Jinping telah menekankan pentingnya “keamanan populasi” dan menjadikan pembangunan “populasi berkualitas tinggi” sebagai prioritas nasional. Berbagai kebijakan baru diperkirakan akan terus digulirkan, mulai dari insentif pernikahan hingga dukungan kelahiran.

Namun, banyak warga menilai masalah mendasarnya belum tersentuh. Tingginya pengangguran anak muda, mahalnya biaya membesarkan anak, serta beban pengasuhan yang tidak seimbang terutama pada perempuan menjadi faktor utama rendahnya minat memiliki anak. Warisan kebijakan satu anak juga meninggalkan generasi yang harus menanggung tanggung jawab ganda merawat anak sekaligus orang tua, di tengah sistem jaminan sosial yang masih lemah.

Pemerintah pusat telah memperkenalkan bonus tunai tahunan sebesar 3.600 yuan untuk anak di bawah tiga tahun, memperlonggar aturan pendaftaran pernikahan, menyediakan prasekolah negeri gratis, serta berencana menghapus biaya persalinan rumah sakit pada 2026. Meski demikian, banyak keluarga menilai bantuan tersebut hanya “setetes air di lautan” dibandingkan biaya riil membesarkan anak, terutama di kota besar seperti Beijing dan Shanghai.

Selain itu, rendahnya angka pernikahan juga menjadi penghambat utama. Banyak perempuan muda memilih fokus pada karier dan menolak norma tradisional yang menempatkan mereka sebagai penanggung jawab utama urusan rumah tangga dan pendidikan anak. Ketidakpastian ekonomi pasca-pandemi Covid-19 turut memperkuat sikap enggan menikah dan punya anak di kalangan generasi muda.

Para ahli menilai tantangan demografi China bersifat struktural dan sulit dibalikkan. Menurut ekonom Yao Yang, penurunan angka kelahiran sudah mencapai titik yang hampir tidak dapat dipulihkan. Meski kebijakan dapat memperlambat laju penurunan, kembalinya era puluhan juta kelahiran per tahun dinilai sangat kecil kemungkinannya.

Bagi sebagian warga yang hidup di era kebijakan satu anak, refleksi ini menimbulkan penyesalan. Banyak yang kini menyadari bahwa jika memiliki kebebasan memilih di masa lalu, mereka mungkin akan memilih memiliki lebih dari satu anak.

Download WordPress Themes Free
Download Nulled WordPress Themes
Download Premium WordPress Themes Free
Download WordPress Themes
free online course
download lava firmware
Premium WordPress Themes Download
free online course
Tags: Chinacobisnis.comDemografiChinaKebijakanSatuAnakKrisisKelahiran

Related Posts

Dua saksi dalam sidang dugaan korupsi kuota haji menyatakan tidak pernah menyerahkan uang atau menerima perintah pemberian fee kepada Yaqut Cholil Qoumas.

Saksi Kemenag Bantah Beri Fee ke Yaqut

by Rizki Meirino
September 18, 2026
0

JAKARTA, Cobisnis.com - Dua mantan pejabat Kementerian Agama (Kemenag), Rizky Fisa Abadi dan Muhammad Agus Syafii, memberikan keterangan terkait dugaan...

The Bimasena menggelar Energy Leaders’ Talk untuk membahas penguatan kerangka kebijakan dalam mendukung ketahanan energi Indonesia.

The Bimasena Bahas Ketahanan Energi Indonesia

by Rizki Meirino
September 18, 2026
0

JAKARTA, Cobisnis.com - The Bimasena kembali menggelar Energy Leaders’ Talk dengan tema “Memperkuat Kerangka Kebijakan untuk Ketahanan Energi” di Jakarta,...

ASABRI merealisasikan pembayaran empat program manfaat utama lebih dari Rp12,7 triliun hingga Semester I 2026 untuk peserta dan ahli waris.

ASABRI Bayarkan Hak Peserta Rp12,7 Triliun

by Rizki Meirino
September 18, 2026
0

JAKARTA, Cobisnis.com - PT ASABRI (Persero) terus menjalankan amanah dalam memberikan perlindungan sosial kepada peserta sebagai bentuk penghargaan negara atas...

Kemenhub menetapkan aturan keselamatan mobil listrik yang diangkut kapal, termasuk baterai 30-50 persen dan larangan mengisi daya.

Mobil Listrik Naik Kapal Wajib Ikuti Aturan

by Desti Dwi Natasya
September 18, 2026
0

JAKARTA, Cobisnis.com - Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menetapkan sejumlah ketentuan keselamatan untuk kendaraan listrik yang diangkut menggunakan kapal dalam perjalanan antarpulau....

David Beckham menilai Lionel Messi layak memenangkan Ballon d'Or 2026 setelah melihat penampilan gemilangnya bersama Argentina di Piala Dunia.

Beckham Jagokan Messi Raih Ballon d’Or

by Desti Dwi Natasya
September 18, 2026
0

JAKARTA, Cobisnis.com - David Beckham mendukung Lionel Messi untuk memenangkan Ballon d'Or 2026 meski persaingan penghargaan individu tersebut turut diramaikan...

Load More
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Memperingati Hari Keselamatan Pasien Sedunia 2026, Novo Indonesia mengajak masyarakat aktif memastikan keamanan obat dan melaporkan efek samping.

Novo Dorong Masyarakat Aktif Jaga Keselamatan Obat

September 17, 2026
AIA menghadirkan AIA SILABUS di Universitas Indonesia untuk membekali mahasiswa dengan literasi keuangan dan perencanaan finansial sejak dini.

AIA SILABUS Hadir di Universitas Indonesia

September 17, 2026
Begini Cara iPhone 18 Pro Memastikan Foto Benar Benar Asli

Begini Cara iPhone 18 Pro Memastikan Foto Benar Benar Asli

September 17, 2026
Kuning Telur - pexels/Ron Lach

Benarkah Kuning Telur Sebabkan Masalah Kesehatan Jantung?

September 17, 2026
Dua saksi dalam sidang dugaan korupsi kuota haji menyatakan tidak pernah menyerahkan uang atau menerima perintah pemberian fee kepada Yaqut Cholil Qoumas.

Saksi Kemenag Bantah Beri Fee ke Yaqut

September 18, 2026
Polisi Olah TKP Dugaan Perburuan Penyu di Raja Ampat

Diduga Buru dan Santap Penyu di Raja Ampat, WN China Diperiksa Imigrasi

September 18, 2026
17.288 Koperasi Desa Merah Putih Siap Beroperasi Akhir September

17.288 Koperasi Desa Merah Putih Siap Beroperasi Akhir September

September 18, 2026
Tarif PPN Tetap 11%, Dirjen Pajak Bantah Ada Rencana Kenaikan

Tarif PPN Tetap 11%, Dirjen Pajak Bantah Ada Rencana Kenaikan

September 18, 2026
">
  • Redaksi
  • Profil
  • Media Kit
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Cyber
  • Kontak

© Copyright 2025 Cobinis.com - All Right Reserved

No Result
View All Result
  • Home
  • Ekonomi & Bisnis
  • Nasional
  • Industri
  • Lifestyle
  • Humaniora
  • Kesehatan & Olahraga
  • Startup Center
  • Foto
  • Youtube

© Copyright 2025 Cobinis.com - All Right Reserved