JAKARTA, Cobisnis.com – Mayoritas mata uang Asia melemah terhadap dolar AS pada perdagangan Jumat, 8 Mei 2026 pagi. Pemicunya adalah meningkatnya kembali ketegangan AS dan Iran yang picu sentimen risk off di pasar global.
Won Korea Selatan jadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia. Hingga pukul 02.06 GMT, won melemah 0,54 persen ke level 1.463,9 per dolar AS dari sebelumnya 1.456.
Rupiah ikut tertekan dengan pelemahan 0,12 persen ke posisi 17.350 per dolar AS. Angka ini tambah tekanan pada rupiah yang sudah melemah cukup dalam sepanjang tahun ini.
Mata uang Asia lainnya juga bergerak negatif. Baht Thailand turun 0,09 persen, ringgit Malaysia melemah 0,15 persen, dan peso Filipina terkoreksi 0,03 persen.
Yen Jepang cenderung stabil di level 156,90 per dolar AS. Dolar Singapura bahkan bergerak tipis menguat ke 1,269 per dolar AS.
Tekanan ini muncul setelah AS dan Iran kembali saling serang pada Kamis, 7 Mei 2026. Aksi itu picu kekhawatiran soal keberlangsungan gencatan senjata yang sebelumnya sudah berlangsung sebulan.
Situasi itu dorong kenaikan harga minyak dan perkuat permintaan aset safe haven termasuk dolar AS. Kondisi ini langsung tekan mata uang negara berkembang di Asia.
Secara year to date 2026, rupiah sudah melemah 3,92 persen dibanding posisi akhir 2025 di level 16.670 per dolar AS. Ini menjadikan rupiah salah satu mata uang dengan tekanan terdalam di Asia.
Rupee India lebih dalam lagi dengan penurunan 4,65 persen sejak awal tahun, sementara won melemah 1,67 persen. Sebaliknya ringgit Malaysia menguat 3,65 persen, yuan China naik 2,70 persen, dan dolar Singapura terapresiasi 1,34 persen.
Pelaku pasar kini nantikan data tenaga kerja AS yang jadi petunjuk arah kebijakan suku bunga The Fed. Data itu dinilai penentu pergerakan dolar AS dan dampaknya ke mata uang Asia dalam waktu dekat.













