JAKARTA, Cobisnis.com – Sejumlah menteri dalam pemerintahan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan menunjukkan ketidakpuasan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan gencatan senjata di Lebanon. Mereka menilai keputusan tersebut disampaikan tanpa koordinasi yang memadai.
Menurut laporan media lokal, Netanyahu hanya menghubungi anggota kabinet keamanan melalui sambungan telepon singkat pada Kamis (16/4), tanpa mengadakan rapat resmi atau pemungutan suara seperti prosedur yang lazim dilakukan.
Dalam komunikasi tersebut, Netanyahu disebut menjelaskan bahwa gencatan senjata mulai berlaku tengah malam atas permintaan Trump. Meski demikian, pasukan Israel disebut tetap berada di wilayah yang saat ini mereka kuasai.
Media Israel juga melaporkan bahwa sejumlah menteri merasa kecewa karena tidak menerima pemberitahuan lebih awal terkait langkah tersebut. Mereka menilai keputusan penting semacam ini seharusnya dibahas bersama kabinet.
Kritik turut datang dari tokoh oposisi Yair Lapid yang menilai pemerintahan Netanyahu kembali gagal mewujudkan janji politiknya. Sementara itu, Avigdor Lieberman menyebut kesepakatan itu merugikan warga Israel di wilayah utara.
Situasi ini menambah tekanan politik terhadap Benjamin Netanyahu di tengah konflik yang masih berlangsung di kawasan perbatasan Israel-Lebanon.













