JAKARTA, Cobisnis.com – Presiden China Xi Jinping dijadwalkan melakukan kunjungan ke Amerika Serikat pada 23 sampai 25 September 2026. Dalam kunjungan tersebut, Xi akan bertemu Presiden AS Donald Trump untuk membahas hubungan kedua negara dan sejumlah isu global.
Pertemuan ini berlangsung ketika hubungan Washington dan Beijing masih menghadapi sejumlah persoalan. Perdagangan, teknologi, Taiwan, hingga posisi kedua negara terhadap konflik Iran menjadi isu yang berpotensi masuk dalam pembahasan.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun mengatakan Xi dan Trump akan bertukar pandangan mengenai isu utama yang berkaitan dengan hubungan China dan AS, perdamaian dunia, serta pembangunan.
China juga menyatakan keinginannya untuk memperkuat dialog dan kerja sama dengan Washington. Beijing mengatakan perbedaan antara kedua negara perlu dikelola dengan tepat agar hubungan tetap stabil.
Di sektor perdagangan, kedua negara memang telah menurunkan sebagian tensi melalui kesepakatan yang menahan eskalasi tarif. Namun, sejumlah persoalan belum sepenuhnya selesai dan pembicaraan lanjutan masih diperlukan untuk menjaga stabilitas hubungan ekonomi kedua negara.
Teknologi juga menjadi salah satu titik persaingan. Amerika Serikat dan China masih berhadapan dalam pengembangan kecerdasan buatan, akses teknologi canggih, serta rantai pasok berbagai komponen strategis.
Taiwan menjadi persoalan lain yang sensitif. China menentang penjualan senjata Amerika Serikat kepada Taiwan, sementara Washington mempertahankan kebijakan untuk mendukung kemampuan pertahanan Taiwan. Xi diperkirakan akan membawa isu tersebut dalam pertemuannya dengan Trump.
Ketegangan juga terlihat dari perbedaan sikap kedua negara terhadap Iran. China mengecam ancaman sanksi Amerika Serikat terhadap maskapai penerbangan Iran dan menyebut sanksi sepihak yang tidak memiliki dasar hukum internasional sebagai tindakan ilegal.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent sebelumnya mengatakan seluruh maskapai penerbangan Iran dapat menghadapi tekanan untuk menghentikan operasionalnya secara global. Washington juga memperingatkan perusahaan asing yang membantu penerbangan Iran dapat menghadapi konsekuensi terhadap akses mereka ke sistem keuangan berbasis dolar.
Posisi China terhadap Iran menjadi salah satu persoalan yang dapat memperumit hubungan Washington dan Beijing. Di sisi lain, kedua negara tetap memiliki kepentingan untuk menjaga komunikasi langsung agar persaingan tidak berkembang menjadi konflik yang lebih luas.
Pertemuan Trump dan Xi di Washington karena itu menjadi ruang penting untuk membahas sejumlah perbedaan tersebut. Kedua pihak masih berupaya menjaga dialog meski persaingan ekonomi dan kepentingan strategis mereka tetap kuat.













