JAKARTA, Cobisnis.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam hukuman mati bagi pegawai pemerintah yang membocorkan informasi rahasia kepada media, menyusul dugaan kebocoran informasi terkait operasi militer AS terhadap Iran.
Ancaman tersebut disampaikan Trump saat berpidato di hadapan para pendukungnya dalam rapat umum menjelang pemilu paruh waktu di Bullhead City, Arizona, pada Rabu (14/10/2026) waktu setempat.
Trump menyinggung insiden ketika Pentagon diduga menunda serangan udara terhadap Iran setelah informasi mengenai jadwal keberangkatan dan kedatangan pesawat pengebom bocor ke media, termasuk The New York Times dan CNN.
Belum diketahui secara pasti operasi militer yang dimaksud, tetapi sejumlah media berspekulasi bahwa Trump merujuk pada operasi pemboman fasilitas nuklir bawah tanah Iran pada tahun sebelumnya.
“Seseorang membocorkan informasi – seorang bajingan,” kata Trump, seraya menambahkan bahwa “mereka pantas dipenjara dan ditembak mati”.
“Di masa lalu kita biasa menembak para pembocor informasi… (terutama) ketika mereka membocorkan waktu kapan kita akan menyerang suatu negara,” ujarnya, seperti dilansir Russia Today (RT), Sabtu (17/10/2026).
Trump juga menyebut para pembocor informasi sebagai “sampah masyarakat” dan berulang kali mengecam pejabat pemerintah yang memberikan informasi rahasia kepada pers sejak konflik militer AS-Israel dengan Iran meningkat pada akhir Februari 2026.
Bulan lalu, Trump mengancam akan memberikan konsekuensi berat kepada pihak yang membocorkan informasi melalui unggahan di Truth Social, setelah muncul laporan bahwa sejumlah ajudannya menyarankan agar ia tidak menyerang Teheran.
Pada Agustus 2026, Trump juga menyebut tindakan pembocoran tersebut sebagai pengkhianatan dan mengatakan pemerintah berupaya menjatuhkan hukuman penjara jangka panjang kepada pihak yang terlibat.
Ketegangan itu turut dipicu laporan The Washington Post mengenai dugaan kekurangan amunisi militer AS, terutama rudal jarak jauh dan pencegat pertahanan udara, yang dibantah Trump dengan menyatakan persediaan amunisi negara tersebut masih memadai.
The New York Times kemudian melaporkan bahwa Pentagon melakukan tes poligraf terhadap puluhan pegawai sipil dan perwira militer untuk mengidentifikasi sumber kebocoran informasi mengenai persediaan amunisi.
Pada April 2026, Trump juga menuntut jurnalis yang melaporkan detail misi penyelamatan dua awak pesawat tempur F-15E Strike Eagle AS yang ditembak jatuh di Iran agar mengungkap sumber informasi mereka atau menghadapi hukuman penjara.













