JAKARTA, Cobisnis.com – Di tengah badai salju yang menggila pada Januari 1973, seorang remaja berusia 16 tahun bernama Diann Droste duduk sendirian di dalam bus Greyhound, menatap keluar jendela dengan perasaan tak menentu. Ia sedang dalam perjalanan pulang ke Waterloo, Iowa, usai mengunjungi sahabat pena di Minnesota. Tanpa uang, tanpa pengalaman, dan tanpa tahu apa yang harus dilakukan, Diann tak pernah menyangka perjalanan itu akan menjadi kenangan paling berkesan sepanjang hidupnya.
Saat bus terpaksa berhenti di Albert Lea, Minnesota, karena kondisi jalan yang berbahaya, seluruh penumpang diarahkan menginap di sebuah motel. Diann panik. Ia hanya membawa beberapa dolar sisa bekal perjalanan dan tidak mampu menyewa kamar. Di lobi motel, ia duduk sendirian di kursi keras di bawah lampu neon, berencana menghabiskan malam di sana dan berharap bus akan kembali berjalan keesokan paginya.
Di saat itulah dua perempuan paruh baya mendekatinya. Dengan pakaian sederhana, rok gelap, blus putih, dan sepatu hitam yang “terlihat sangat masuk akal,” seperti yang masih diingat Diann hingga kini, mereka mengajaknya makan malam. Awalnya Diann menolak karena tak punya uang. Namun kedua perempuan itu kembali dan dengan lembut menawarkan untuk membayarkan makanannya.
Di restoran kecil dekat motel, Diann akhirnya mengetahui bahwa kedua perempuan tersebut adalah biarawati Katolik dari Ordo Sisters of Mercy, yang mengajar di sebuah SMA Katolik di Iowa. Percakapan ringan berubah menjadi kehangatan yang menenangkan. Malam itu, bukan hanya perut Diann yang terisi, tetapi juga rasa aman dan kepercayaan yang hampir hilang.
Kebaikan mereka tidak berhenti di situ. Melihat Diann tak memiliki tempat menginap, kedua biarawati itu menawarkan kamar motel mereka, lengkap dengan dua tempat tidur. Meski terdengar berisiko, Diann merasa aman sepenuhnya. Malam itu mereka bermain kartu, tertawa, dan berbagi cerita, sebelum akhirnya tidur dengan tenang.
Keesokan paginya, badai mereda. Para penumpang bus sarapan bersama dengan suasana penuh keakraban. Diann kembali melanjutkan perjalanan pulang dengan hati yang hangat. Saat tiba di Waterloo dan melihat ibunya menunggu, ia berpamitan dengan kedua biarawati tersebut. Sebelum berpisah, mereka memberinya doa singkat sebuah momen sederhana yang melekat kuat hingga puluhan tahun kemudian.
Kini, lebih dari lima dekade berlalu, Diann telah menjalani hidup sebagai perawat selama 40 tahun, menjadi ibu dan nenek. Ia mungkin telah melupakan nama kedua biarawati itu, tetapi tidak pernah melupakan kebaikan mereka. Pengalaman tersebut membentuk prinsip hidupnya: ketika dihadapkan pada pilihan antara benar dan baik, pilihlah untuk berbuat baik.
Bagi Diann, dua biarawati itu mungkin hanya hadir satu malam dalam hidupnya. Namun kebaikan mereka telah bertahan seumur hidup, menjadi pengingat bahwa satu tindakan kecil dari orang asing bisa mengubah jalan hidup seseorang selamanya.














