JAKARTA, Cobisnis.com – Middle income trap adalah kondisi ketika sebuah negara berhasil keluar dari status berpendapatan rendah, tetapi gagal naik menjadi negara berpendapatan tinggi. Fenomena ini sudah menjerat banyak negara berkembang selama puluhan tahun. Meski secara ekonomi tumbuh, mereka seolah mentok di level yang sama—tanpa lompatan produktivitas atau inovasi besar yang bisa membawa ekonomi ke tingkat berikutnya.
Salah satu alasan utama middle income trap sulit ditembus adalah ketergantungan berlebihan pada pertumbuhan berbasis tenaga murah. Pada tahap awal pembangunan, negara berkembang biasanya menarik investasi asing lewat upah rendah. Namun ketika pendapatan mulai naik, biaya tenaga kerja ikut meningkat, dan negara tersebut tidak lagi kompetitif. Masalahnya, mereka belum siap pindah ke industri bernilai tambah tinggi.
Masalah berikutnya adalah produktivitas yang stagnan. Negara berkembang sering gagal meningkatkan kualitas pendidikan, riset, dan kemampuan teknologi. Akibatnya, industri tidak berevolusi dan masyarakat tetap bergantung pada sektor-sektor tradisional. Ketika ekonomi butuh upgrade ke industri modern, ekosistemnya belum siap—mulai dari SDM, infrastruktur, sampai kultur inovasi.
Struktur ekonomi yang terlalu sempit juga ikut memperkuat jebakan ini. Banyak negara berkembang hanya mengandalkan sektor tertentu seperti komoditas, manufaktur dasar, atau ekspor padat karya. Tanpa diversifikasi sektor dan inovasi model bisnis, mereka sulit menciptakan nilai baru yang bisa mendorong pertumbuhan jangka panjang. Ketergantungan pada sumber daya mentah juga membuat ekonomi rentan terhadap fluktuasi global.
Selain itu, birokrasi yang lambat, regulasi yang tidak konsisten, dan tata kelola yang kurang efisien membuat pergerakan ekonomi semakin berat. Negara yang ingin naik kelas harus memiliki lembaga kuat yang mendukung inovasi, mempermudah bisnis berkembang, dan memastikan investasi berjalan produktif. Tanpa sistem yang fleksibel dan transparan, transformasi ekonomi berjalan sangat lambat.
Investasi di bidang inovasi—seperti teknologi, riset, dan pengembangan—sering kali tidak menjadi prioritas. Negara yang lolos dari middle income trap biasanya berhasil mendorong ekonomi berbasis pengetahuan. Sementara negara yang terjebak sering stuck karena tetap memakai strategi lama: memperbanyak tenaga kerja, bukan meningkatkan kualitas dan kreativitas tenaga tersebut.
Terakhir, perubahan sosial juga punya peran besar. Ketika pendapatan naik, konsumsi ikut naik, tapi investasi jangka panjang tidak selalu mengikuti. Masyarakat masuk ke pola konsumsi menengah tanpa kesiapan finansial atau kemampuan produktif yang memadai. Negara pun sulit mengalihkan fokus dari konsumsi ke inovasi.
Secara keseluruhan, middle income trap bukan hanya tantangan ekonomi, tetapi tantangan struktural dan institusional. Untuk menembusnya, negara berkembang perlu membangun fondasi kuat: SDM berkualitas, riset yang matang, sektor industri bernilai tambah tinggi, dan pemerintahan yang mampu mengarahkan transformasi. Tanpa perubahan mendasar, negara hanya akan terus berputar di lingkaran yang sama—naik cukup tinggi untuk keluar dari kemiskinan, tapi tidak pernah cukup kuat untuk masuk ke puncak pendapatan dunia.














