JAKARTA, Cobisnis.com – Harga telur ayam di tingkat peternak terus berada di bawah harga acuan pembelian. Kondisi ini membuat peternak tertekan karena harga jual turun ketika biaya produksi, terutama pakan, justru meningkat.
Ketua Komisi IV DPR RI Titiek Soeharto berjanji membawa keluhan peternak ayam petelur kepada Presiden Prabowo Subianto. Ia juga akan mendorong pemerintah menyerap produksi telur melalui berbagai program pemerintah.
“Ini sudah kami tampung, nanti kami akan perjuangkan di kementerian, dan insya Allah sampaikan ke Pak Presiden (Prabowo) ini,” ujar Titiek dalam Rapat Dengar Pendapat Umum dengan Pinsar Petelur Nasional, Rabu (7/10).
Menurut Titiek, swasembada telur tidak cukup hanya dilihat dari kemampuan memenuhi kebutuhan konsumsi. Kondisi harga juga harus memungkinkan peternak tetap menjalankan usaha dan memperoleh keuntungan.
“Kita harus buat peternaknya juga sejahtera. Ini akan kami sampaikan terutama harganya yang anjlok ini supaya bisa diserap oleh program-program pemerintah, ya. Jadi tidak terus mubazir,” ujarnya.
Pengurus Pinsar Petelur Nasional Suwardi mengatakan harga telur di tingkat peternak sejak April berada jauh di bawah harga acuan pembelian yang ditetapkan Bapanas sebesar Rp26.500 per kg. Harga rata rata di lapangan hanya sekitar Rp19.000 hingga Rp20.000 per kg.
Bahkan pada Juni lalu, harga telur sempat menyentuh titik terendah Rp17.100 per kg. Dalam enam bulan terakhir, harga rata rata disebut hanya berada di kisaran Rp20.000 hingga Rp21.000 per kg.
Kondisi tersebut membuat peternak diperkirakan mengalami kerugian Rp5.000 hingga Rp7.000 per kg setiap hari. Tekanan semakin besar karena harga jagung sebagai bahan utama pakan juga mengalami kenaikan.
Suwardi menyebut harga jagung di Lampung telah mencapai Rp8.400 per kg, sedangkan di Nusa Tenggara Barat sekitar Rp7.700 per kg. Ia meminta pemerintah membantu menyediakan jagung dengan harga yang lebih terjangkau bagi peternak.
“Hari ini kami butuh jagung. Ayam kami sudah tidak bisa makan, karena ketersediaan berkurang, harganya terus melambung,” ujar Suwardi.
Titiek mengatakan persoalan harga jagung juga akan dikoordinasikan dengan pemerintah. Ia berencana meminta Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman berkoordinasi dengan Bulog untuk membantu menstabilkan harga jagung bagi peternak.
“Kami akan berusaha sekeras mungkin. Nanti habis ini saya telepon Pak Menteri (Pertanian Andi Amran Sulaiman) dan minta juga dikoordinasikan Bulog supaya harga jagungnya ini bisa distabilkan,” kata Titiek.
Suwardi mengatakan sebagian peternak bahkan sudah tidak mampu mempertahankan usahanya karena kesulitan membeli pakan. Sejumlah kandang disebut sudah kosong karena peternak tidak sanggup menanggung biaya produksi.
Ia memperkirakan peternak ayam petelur membutuhkan sekitar 223 ribu ton jagung dalam lima bulan ke depan hingga Februari. Kebutuhan tersebut diperkirakan meningkat di tengah kemarau panjang dan fenomena El Nino.
Pemerintah sebelumnya disebut menyetujui alokasi 150 ribu ton jagung hingga Desember untuk 7.612 peternak. Namun, Suwardi mengatakan pasokan tersebut belum mencukupi kebutuhan peternak.
Dari penugasan awal 500 ribu ton untuk program SPHP, izin yang diberikan disebut hanya 250 ribu ton. Setelah digunakan untuk SPHP tahap I dan II sebanyak 213 ribu ton, Suwardi memperkirakan stok yang tersisa sekitar 30 ribu ton.
Persoalan harga telur dan ketersediaan jagung tersebut kini akan dibawa ke tingkat pemerintah pusat. Titiek berharap koordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait dapat membantu menjaga keberlangsungan usaha peternak sekaligus mendukung target swasembada pangan.













