JAKARTA, Cobisnis.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih berada dalam fase koreksi dan bergerak di area 8.800. Tekanan pasar muncul seiring meningkatnya ketidakpastian global dan sentimen geopolitik yang belum mereda.
Pergerakan IHSG mencerminkan sikap wait and see investor. Arus transaksi cenderung selektif, dengan sebagian pelaku pasar mulai mengurangi eksposur pada aset berisiko.
Situasi geopolitik global yang tidak stabil menjadi faktor utama tekanan pasar. Ketegangan antarnegara dan konflik regional mendorong kekhawatiran terhadap rantai pasok, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi dunia.
Di tengah kondisi tersebut, harga emas kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang masa. Kenaikan emas menunjukkan pergeseran dana investor ke aset lindung nilai.
Fenomena ini mempertegas perubahan selera risiko di pasar keuangan. Saat ketidakpastian meningkat, investor cenderung mencari instrumen yang dianggap lebih aman.
Koreksi IHSG juga dipengaruhi oleh dinamika pasar global, termasuk pergerakan indeks utama dunia dan arah kebijakan moneter bank sentral.
Dari sisi domestik, pelaku pasar masih mencermati prospek pertumbuhan ekonomi nasional serta keberlanjutan belanja pemerintah. Faktor-faktor ini menjadi penyeimbang di tengah tekanan eksternal.
Meningkatnya volatilitas turut memicu kewaspadaan terhadap mekanisme pengendalian pasar. Bursa memiliki sistem perlindungan untuk menjaga stabilitas perdagangan saat pergerakan indeks terlalu ekstrem.
Meski demikian, koreksi tidak selalu dipandang negatif. Sebagian investor menilai fase ini sebagai proses penyesuaian harga setelah reli panjang.
Di sisi lain, kondisi pasar yang melemah juga membuka peluang akumulasi bertahap pada saham-saham berfundamental kuat.
Arah pergerakan IHSG ke depan akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik global, stabilitas makroekonomi, serta kepercayaan investor terhadap pasar domestik.














